See you another day, Lualo!  Yogok ooo… 😊

Terhitung sejak 2013, tahun ini adalah tahun ke 4 sa belajar dan berdinamika dengan Papua dan seisinya. Masih seumur jagung memang, tapi entah kenapa 3 tahun terakhir ini sa merasa lebih hidup dan kaya.

Tahun pertama di Tiom dan tahun kedua di Poga menjadi tahun-tahun yang mengasikkan. Semangat masih berapi-api dan segala kebutuhan sekolah masih terjamin. Pusingnya masih normal lah. Beberapa program pun berhasil dijalankan bersama anak-anak. Pojok baca, Buletin Elege Inone, Pohon Pengetahuan, Bintang Prestasiku, Honai Pintar Poga, dll. Hampir semua berjalan baik.

Tahun ketiga menjadi tahun yang cukup berat dan menantang. Menghidupkan sekolah yang telah mati suri selama 4 tahun itu setengah mati sekali. Tidak semudah yang sa bayangkan. Dan tentunya, tidak semudah sa mengajar di sekolah sa sebelumnya atau tak semudah pula mengajarkan a,b,c kepada anak-anak.

Sa masih ingat betul bagaimana hati sa hancur dan gelisah setelah melihat ketimpangan yang terjadi di sekolah sa dan Lualo. Di saat yang sama, sekolah sa mendapat 7 guru untuk 1 sekolah, sedangkan Lualo satu guru pun tidak ada. Sebagai akibatnya, anak-anak di Lualo tal lagi sekolah. Sekolah pun telah non aktif selama 4tahun. Hati sa hancur. Di tengah gegap gempita Lanny Jaya mengejar predikat pemenang pendidikan sepegunungan tengah, mereka malah melupakan Lualo. Dan sa yakin, masih ada banyak Lualo-Lualo lain di Lanny Jaya. Sa mulai gelisah. Kalau sa diberikan pilihan untuk menutup mata dan hati akan Lualo sa akan menutup mata, batin sa. Sayangnya, sa justru semakin hancur tiap mengingat wajah polos anak-anak Lualo. 

Sa juga masih ingat betul ketika tanpa alasan yang jelas sa diberhentikan dari yayasan yang membawa sa sampai ke Tanah Papua. Bukannya sa sedih, sa  justru merasa lega dan saat itu juga sa langsung mengirim pesan ke teman “Welcome to Lualo”. Semesta kembali mendengar kegelisahan sa dan memberi jalan.

Pun, sa masih ingat saat sa dan Andreas Wahyu berdiskusi, kami memutuskan untuk mengisi kekosongan Lualo. “Sampai Lualo dapat guru seperti sekolah-sekolah lain” begitu katanya. Pilihan yang berat sebetulnya karena kami hanya bermodal keyakinan dan sedikit uang saja di tabungan.

Ya, menjadi orang rambut lurus pertama di Lualo penuh dengan warna. Emosi sa terkuras di sana. Bagaimana tidak, banyak sekali moment-moment bahagia, sedih, bangga, marah, kesal tersaru menjadi satu. Ya, melihat tumbuh kembang anak-anak, merasakan kasih sayang yang tulus dari anak-anak dan masyarakat Lualo tentunya membuat kami selalu bersyukur dan bahagia. Tapi,  tangis sa akan pecah ketika melihat anak-anak yang menangis karena lapar, sakit, atau kedinginan. Atau pernah juga sa kebingungan karena stok beras habis dan kami tidak bisa turun ke Wamena untuk membeli  beras karena masih hari belajar, dan selang berapa hari ada masyarakat yang rela membagi berasnya untuk kami.

Apel pagi (📷 by Ula R)
Belajar Menbaca agar tahu dunia (📷 by Ula R)
Mandi bersama Pirite Kogoya (📷 by Ula R)

Belum lagi rapalan doa-doa agar Lualo mendapat guru selalu keluar dari mulut kami tiap hari pula. Tiap kali ada informasi tentang pendistribusian guru-guru kontrak, kami selalu berharap Lualo pun akan mendapatkannya. Walaupun selalu dan selalu saja hasilnya mengecewakan. Lualo tidak mendapat guru lagi. Begitu terus sampai sering membuat kumparan-kumparan optimis kami semakin lama semakin terkikis. Ya, perlu diakui bahwa merawat harapan itu berat.

Ah, fluktuatif dan menguras emosi lah! Tapi justru dinamika seperti itulah yang membuat sa semakin hari semakin merasa hidup dan lebih kaya. Haha.

Hari demi hari kami habiskan dalam tawa yang penuh harap.

Hingga akhirnya bulan Mei lalu, kami boleh bernafas lega. Ditengah harap kami yang semakin lama semakin terkikis, Misi Kogoya datang  menawarkan diri untuk mengajar di Lualo.

“Ini sa pu adik-adik. Jadi sa juga harus ajar mereka ibung guru ” ucap Misi Kogoya. Ia adalah salah satu sarjana dari  kampung Lualo.

Air mata sa meleleh mendengarnya. Semesta telah mendengar doa kami dan Tuhan telah mengirim guru yang kami nanti-nanti. Our mission has been accomplished!

Misi Kogoya dan anak-anak mengangkut bantuan buku dari BPKP(📷 by Andreas Wahyu)

Lualo, terimakasih untuk satu tahun yang begitu asik! Kami boleh banyak belajar tentang kasih, hidup, dan perjuangan. Terimakasih untuk pelukan dan belaian sayang dari tubuh-tubuh kecil beraroma honai. Terimakasih untuk hari-hari kami yang selalu dipenuhi celoteh dan kenakalan mereka. Terimakasih karna separuh lebih dari tabungan ludes untuk biaya hidup di Lualo, tapi justru sa merasa lebih kaya karna jutaan rupiah itu tergantikan dengan kantong bahagia sa yang selalu penuh tawa dan cinta dari anak-anak.  Terimakasih partner terbaik sa @andreas Wahjoe dan Nes Yigibalom. Terimakasih pula untuk semua teman-teman yang selalu menjaga nyala asa untuk kami dan anak-anak Lualo. See you another day, Lualo!  Yogok ooo… 😊

Tahun keempat, akan menjadi petualangan baru untuk sa. Gunung-gunung yang menjulang tinggi akan terganti dengan kelok sungai, honai-honai akan terganti dengan rumah jew, dan ubi bakar akan tergantikan dengan sagu bakar. Ah, be my friend, Asmat! We gonna have a long long journey ahead. 

Liputan Tempo bulan Maret


Ruang Tunggu Bandara Timika

01 oktober 2016

Rose

Ps. Setelah Misi Kogoya menawarkan diri untuk mengajar di Lualo, satu bulan setelah itu Dinas P&P Kab. Lanny Jaya mengirimkan 4 guru untuk Lualo.

Advertisements

Terimakasih dari Poga

Bulan Februari lalu, Mbak Helene Jeane Koloway memberi sa kabar kalau ia sedang di Indonesia. Hampir setiap tahun, Ibu dari dua anak ganteng itu memang selalu melakukan kunjungan rutin ke Indonesia. Pulang kampung sekaligus liburan mengenalkan Indonesia ke anak bujangnya. Tahun ini, sedikit lain karena di tengah kesibukannya, Mbak Helene memberi kabar sa kalau ia tengah menyiapkan untuk membuat aksi fundraising di Surabaya. 

“Aku lg mencoba menggalang dana dng menjual bunga di Sutos, tgl 13, 14 Feb” katanya. 

Sa sempat terkekeh membaca message yang sa terima dari mbak Helene. Orang Prancis ke sini mau liburan kok malah jualan bunga, batin sa. Tapi kemudian sa sadar, tidak mungkin dia lakukan hanya untuk kebutuhan dirinya sendiri. Pasti untuk membantu orang lain. Dan benar saja,  Mbak Helene kemudian bercerita kalau nanti dari hasil penjualan bunga itu akan di donasikan untuk sa pu anak-anak di Poga, Lanny Jaya, Papua. Sa melongo. 

Setelah mendapat izin dari pihak management Mall Sutos, Mbak Helene, Lalu Abdul Fatah, Dinda dkk akhirnya menjajakan puluhan tangkai bunga mawar merah dan putih kepada para pengunjung mall. Tiga hari berselang, mereka berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp. 1.820.000,00. Uang tersebut kemudian dipercayakan kepada sa untuk kemudian dibelanjakan sesuai kebutuhan anak-anak Poga. 

Mbak Helene menjelaskan tentang Honai Pintar Poga kepada pembeli
Lalu and his beautiful roses
Para penjual bunga yang kece badai

                                          ***

Setelah lama sekali menunggu kabar dari kepala sekolah, akhirnya Selasa 27 September 2016, sa berangkat ke Poga dengan kepala sekolah. Dengan taksi, kami membawa 6 kardus dan 1 daypack berisi buku bacaan dan alat tulis. Karena kami berangkat pagi, sa pikir siang sudah bisa kembali ke Wamena sehingga sa bisa berkemas untuk perjalanan hari Rabu. Sayang, di pertengahan jalan antara Wamena-Poga, mobil taksi yang kami tumpangi mengalami sedikit trouble. Mobil tertanam ketika melintasi sebuah kali kecil di Bolakme. Bagian depan mobil nyangkut ke sebuah batu besar, sedang ban belakang sudah terkubur pasir. Tidak bisa maju apalagi mundur. Manggrok. Kaka supir mulai emosi dan terus menginjak gas sambil ngomel. Sa pun  berteriak heboh di dalam mobil ketika kaka supir terus-terusan menginjak gas dan menbuat ban belakang mengikis pasir kali  sehingga membuat posisi mobil semakin miring ke kanan. Apesnya sa duduk di bagian kanan pula. Kalau mau mati, mati sudah Gusti! Batin sa. Karena sudah miring, akhirnya kaka supir meminta penumpang untuk turun dan membantu mendorong. Tidak bisa. Ganti cara dengan mengangkat ban belakang. Tidak bisa pula. Akhirnya dengan kayu yag mereka cabut dari pagar milik orang, mereka congkel batu yang menahan bagian depan mobil. Tiga jam berlalu tidak juga membuahkan hasil. Sa masih duduk melihat orang-orang mencongkel batu itu. Awan sudah mulai gelap. Sore bercampur dengan mendung. Sebentar lagi hujan pasti! Ah, sa makin putus asa. sa lihat kardus-kardus yang disusun di atas mobil sudah ikutan miring pula. Ah, mobil ini tidak akan keluar dan buku-buku akan sa bawa kembali turun ke Wamena karena sudah tidak ada lagi taksi. Tapi dalam cemas, sa masih tetap sedikit berharap bisa mengantar buku-buku ini sampai ke  Poga. 

Mobil tertanam di kali Bolakme
Penumpang berusaha mencongkel batu besar
Akhirnya lolos!

Semesta mendengar, sebuah mesin berat datang dengan membawa sebuah tali seling. Mobil pun ditarik dengan kawat seling dari belakang. Tidak lama mobil taksi kami sudah keluar dari kali. Penumpang yang hampir semua basah kuyup karena membantu mencongkel, mengangkat dan mendorong mobil segera naik. Kami melanjutkan perjalanan. Sa sudah pasrah, karna sudah terlalu sore, kalaupun sampai di Poga pasti tidak akan bertemu dengan anak-anak. 
Ternyata, semesta selalu membantu niatan baik. Sesampainya di Poga, kami disambut anak-anak yang sedang bermain di halaman sekolah. Kebiasaan di Poga, kalau ada mobil masuk mereka pasti akan langsung lari berhamburan mendekati mobil. Memang sekolah pulang lebih awal karena guru-guru akan turun ke Jayapura untuk mengikuti pelatihan. Rasa lelah seketika menjadi bahagia.
Beberapa anak langsung memilih kardus yang akan mereka angkut. Apalagi setelah tahu bahwa kardus-kardus itu adalah buku untuk mereka. Semua berebut ingin segera membuka. 
“Aiiiihhh ibu guru, ini untuk kita semua?” Tanya salah satu anak. 

“Iyo, ini semua untuk kalian. Tapi ko harus rajin sekolah e. Kalau malas-malas nanti pak guru tidak akan kasih ko” jawab kepala sekolah. 

Semua terlihat senang. Anak-anak melihat satu persatu barang yang kami bawa. Kebetulan, selain alat tulis yang sa belanjakan dari hasil fundraising Mbak Helene, sa juga membawa buku renungan harian dari teman-teman Gloria Yogyakarta, dan Buku Anak Bertanya Anak Menjawab. Anak-anak membola-balik, memilih semua barang dengan perasaan ingin tahu dan bahagia. Terlebih Bapa Matius Kogoya yang sedari hanya melihat anak-anak muridnya kegirangan seperti mendapat harta karun.

 

Looking for a treasure

“Aih terimakasih Ibung guru. Kebetulan dana BOS sekolah kami belum turun. Jadi kami belum bisa membeli alat tulis untuk anak-anak. Kemarin sa pusing karena sa tidak ada uang tapi harus beli buku dan pensil untuk anak-anak. Jadi sa terimakasih sekali. Nanti tolong sampaikan kepada teman-teman ibung guru e” kata Pak Guru Matius Kogoya selaku kepala sekolah SD Inpres Poga sekaligus penangung jawab di Honai Pintar Poga. 
Mendengar ungkapan dari Bapa Matius sa langsung teringat Mbak Helene dan teman-teman. Andai saja mereka sendiri yang menceritakan bagaimana uang itu terkumpul dan mendengar langsung ucapan terimakasih itu dari Bapa Matius.

Terimakasih ya Mbak Helene, Lalu, kak Dinda, Ikatan Keluarga Franco-Indonesia dan semua teman-teman yang sudah berbagi kasih yang hadir dalam bentuk buku dan alat tulis lainnya. Terimakasih sudah memberi kesempatan anak-anak Poga untuk bisa belajar dengan fasilitas yang lebih baik. Untuk mbak Jawa yang sudah memberi potongan harga sehingga dengan harga barang di Wamena yang selangit kami masih bisa mendapat 200 buku tulis, 100 buku gambar, 156 pulpen , 120 pensil , 24 lusin pensil warna , 2 peruncing besar , 5 spidol marker  dan 10 tinta refill. Papen Susanto, teman-teman Gloria Yogyakarta, Mbak Karlina, Mas Oka Dwi Po, dan semua teman-teman yang sudah turut serta menjaga nyala asa anak-anak Poga. 

Terimakasih banyak! Terimakasih terimakasih terimakasih… Kinaonak waaa waaa waaaaa! Tuhan memberkati kalian selalu 🙂 

Waiting room Bandara Sentani, 29/09/16 

Rose 

“Honai Pintar Lualo”

Ini tentang sepenggal cerita dari Lualo. Kampung kecil di mana setiap harinya sa, pang gulu dua dan anak-anak belajar, berkarya, tertawa, dan mencintai sesama. Tentunya bersyukur….:)

Terimakasih, waaa…waaa…waaaa, Sengkyu untuk semua teman-teman yang sudah memberikan warna di Lualo. Menghidupkan asa malaikat-malaikat kecil Lualo dengan kasih dan kepedulian kalian… Hormat sa untuk semua! ❤

Rose

Anak-anakku sudah bersih dan wangi

Semasa sa sekolah dasar, sa ingat, sa datang ke sekolah sudah bersih dan rapi. Pagi, ibu selalu mengingatkan sa untuk mandi, gosok gigi, keramas, menyisir rambut dan berdandan rapi. Begitu juga dengan teman-teman sa lainnya. Ternyata kebiasaan seperti itu tidak sa temukan di Lualo. Anak-anak datang ke sekolah dengan muka masih muka bantal. Kadang tai mata dan iler juga masih terlihat jelas di muka mereka. Bau asap dari honai juga masih melekat di tubuh kecil mereka.

Melihat itu, ingin sekali bisa mengajarkan mereka untuk mencintai diri sendiri dengan merawat tubuh. Salah satunya dengan mandi dan gosok gigi.

Akhirnya, saat turun ke kota, sa mulai membuat list kebutuhan anak-anak. Sa membeli sabun, sampo, sikat gigi anak, dan pasta gigi. Pokoknya lengkaplah!

Kalau soal mandi, sebenarnya bukan hal baru untuk anak-anak. Mereka juga sering mandi walaupun kadang pakai sabun deterjen atau bahkan tidak pakai sabun sama sekali. Mandi bebek kalau sa bilang. Yang penting badan kena air saja sudah cukup. Sedangkan menggosok gigi, itu hal yang betul-betul baru untuk mereka.

Melihat itu, sa dan pang guru membuat jadwal khusus. Hari sabtu adalah harinya untuk bebersih diri. Hari sabtu saja? Trus hari lain berarti tidak mandi dong? Tidak sikat gigi dong? Iya, hari sabtu saja. Karena di Lualo tidak ada mata air. Jadi kamu tidak bisa mengajak anak-anak mandi dan gosok gigi setiap hari.

Awalnya, anak-anak masih canggung memakai sabun dan sampo untuk mandi. Masih juga sering tertukar, sampo untuk badan, sabun untuk rambut. Karena belum terbiasa saja. Jadi, kami membuat mandi berjamaah. Anak laki-laki dengan pang gulu dan perempuan dengan sa. Kami ajari mereka satu-persatu cara mandi. Mulai dari membasahi badan dan rambut, memakai sabun dan sampo, mengeringkan badan sampai membersihkan lubang hidung. Biasanya sa dan anak-anak melakukan satu persatu sambil ketawa cekikikan. Mungkin batin mereka, sa pu mama dan bapa saja tidak pernah kasih sa mandi begini. Haha

wp-1454471925761.jpg
Anak laki-laki sedang mandi berjamaah dengan pang gulu
wp-1454471931531.jpg
Sa mengajari Yos Yikwa untuk membersihkan lubang hidung ketika mandi

Setiap mengajak mereka mandi, selalu ada cerita lucu. Seperti satu kali saat anak-anak perempuan mandi bersama, Apite Kogoya berteriak saat hendak mengambil handuk untuk mengelap badan. Anak-anak yang sudah selesai langsung berlarian menghampiri Apite. Semua bingung. Dengan Bahasa Lani, Apite menjelaskan. Aiiiiiihhhh! Semua juga ikut berteriak. Sa penasaran dibuatnya. Sa hampiri dan mereka langsung bilang,

“Bung guru, ada kutu banyak sekali ini…”

Walah! Ternyata mereka berteriak histeris karena melihat puluhan kutu sudah menempel di handuk. Hahaha.

Bukan hanya anak perempuan. Kami pernah di buat kesal saat pertama kali kami mengajak anak-anak mandi di mata air. Anak laki-laki justru kabur semua. Hanya tersisa anak laki-laki yang kecil saja. Ternyata mereka tidak mau mandi di pancuran. Mereka mau mandi di kali besar yang ada di kaki bukit. Kurang seru mungkin mandi di pancuran mata air. Ah, anak-anak. Selalu punya cara sendiri untuk menikmati hidup. Hahaha.

Itu baru soal mandi. Belum lagi saat kami mengajari mereka belajar membersihkan gigi. Sebelumnya kami menjelaskan kepada mereka nama, fungsi, dan cara menggunakan sikat dan pasta gigi. Saat mulai mempraktekkan, mereka tertawa geli memegang sikat. Apalagi saat sa membagi pasta gigi satu persatu. Beberapa anak malah mulai menjilat pasta gigi. Mungkin mereka pikir itu makanan ya? Haha. Mereka juga tampak kaku sekali memegang gagang sikat gigi. Bahkan Pirite Kogoya menggunakan kedua tangannya untuk menggosok giginya. Ah, Pirite!

image
Belajar menggunakan sikat gigi

 

Belajar menggunakan sikat gigi

image
Belajar menggunakan sikat gigi
wp-1454484136670.jpg
Yukiles Yikwa dengan sikat gigi barunya

Begitulah kegiatan kami setiap hari sabtu. Karena lokasi sekolah kami berada di tengah, kami mengatur tempat mandinya bergantian. Minggu ini di mata air, minggu selanjutnya di kali Yu, minggu selanjutnya di Kali Lu. Begitu seterusnya.

Oiya, 1 bulan sebelum libur sekolah kami boleh bersuka cita karena mendapat kiriman bantuan alat mandi dari Dandim Jayawijaya. Dari situ, kami membagi 1 sabun batang untuk anak-anak 1 kampung kemudian dimasukkan ke dalam kantong.

“Sebelum ko datang ke sekolah, kalau ko liat ada air ko mandi sudah. Kalau dingin, ko boleh cuci muka dan tangan kaki saja. Itu su cukup…” pesan sa setiap hari. Sa tidak mewajibkan mereka mandi di pagi hari. Maklum, air di Lualo sudah seperti air es. Jadi cuci muka, tangan dan kaki saja sudah cukup.

Sekarang, anak-anak datang ke sekolah sudah lain.  Tidak lagi kusut, cemong apalagi bau honai. Sekarang muka mereka sudah bersih, segar dan tentunya wangi. 🙂

Itulah salah satu dari banyak hal yang membuat seru mengajar di Lualo. Kepolosan dan semangat anak-anak yang tidak pernah mengenal kata habis,  juga mengajarkan a,b,c dan banyak hal remeh temeh yang mungkin tidak akan sa lakukan jika sa mengajar di kota. LUALO!

02/02/16
Rose

Anak-Anak Lualo

A child is like a butterfly in the wind. Some can fly higher than others, but each one flies the best it can. Why compare one againts the other? Each pne is different, each one is special, each one is beautiful.

 -Anknown Author-

DSC_0033

Saya adalah salah satu orang yang meyakini bahwa setiap anak di dunia ini terlahir berbeda dan unik. Tidak ada satupun anak yang sama. Bahkan mereka yang terlahir kembar sekalipun.

Begitu juga dengan anak-anak di Lualo. Mereka pun terlahir untuk memberikan warna tersendiri di dunia ini dengan tingkah polah, bakat dan kecerdasan masing-masing. Sa bisa membayangkan bagaimana ceritanya kalau anak-anak di Lualo sama. Ah, sudah pasti tidak akan lagi seru!

Ya, dengan keunikan masing-masing, setiap hari kami berbagi tawa, cerita, dan asa. Tidak hanya itu! Seringkali tensi sa dan pang guru naik menghadapi “kenakalan” mereka. Maklum, anak-anak. Kalau tidak nakal bukan anak-anak. Haha. Seperti itulah keseharian sa bersama  anak-anak ini.

Nah, kali ini sa akan bercerita tentang anak-anak kampung yang selalu menjadi kebanggan untuk sa dan teman-teman guru.

Pertama adalah Niko Kogoya. Bocah laki-laki berperawakan kecil ini adalah kunci di SD Inpres Lualo. Kalau tidak ada Niko, mati sudah guru-guru. Ya, ia menjadi spesial karena ia lah satu-satunya interpreter baik untuk kami guru-guru yang masih juga belum fasih berbahasa Lani. Dengan kemampuan berbahasa Indonesianya yang lebih baik dari teman lainnya, ia kerap kami mintai tolong untuk menerjemahkan pesan, pengumuman, ataupun penjelasan ketika belajar.

DSC_0065
Niko Kogoya (berdiri) setelah membantu sa mengalih bahasakan pesan sa

Pernah suatu kali ada beberapa anak yang tidak berangkatsekolah selama beberapa hari. Sa coba untuk menasehati  anak tersebut dengan Bahasa Indonesia, tapi gagal. Sa pusing. Bagaimana caranya agar anak ini bisa mengerti maksud sa. Ah, Nikooooooo!!! Akhirnya sa panggil Niko. Dengan Bahasa Lani ia kemudian mengalih bahasakan omongan sa. Beres! 😀

Di balik pembawaannya yang kalem, ia pernah membuat sa dan pang guru kaget ketika teman sekampungnya, Emiles Yikwa, dipukul oleh Pemiles Yikwa saat apel siang. Sontak ia langsung menghampiri Pemiles dan menarik kerah bajunya.

“Apa ko! Ko beraninya sama anak kecil!” Begitu katanya dan melepas cengkramannya. Ia hanya mengertak, kepalan tangannya lepas seiring kata terakhir ia lontarkan ke Pemiles.

Ya, meskipun ia masih tergolong kecil, Niko adalah anak yang paling bijak yang melindungi kaum kecil seperti Emiles…Haha.

Selain Niko, Toigele Yikwa adalah salah satu anak yang juga istimewa. Niko dan Toigele belajar di kelas yang sama bersama Pang Guru Wahyu, kelas A. Kalau Niko adalah interpreter di sekolah, maka Toigele adalah entertainer. Meskipun cukup pemalu, Toigele pintar sekali dawi (bersenandung dengan Bahasa Lani). Jika salah satu dari kami meminta anak-anak untuk angkat dawi, ooooo sudah! Semua anak akan langsung menunjuk Toigele. Tra da lawan sudah Toi!

Selain pintar dawi, perkembagannya dalam membaca dan menulis juga sangat baik.

Suatu kali ia pernah bercerita kepada kami,

“Di sini sa tinggal dengan sa pu bapa adik. Dulu sa tinggal di Dimba (kampung sebelah). Tapi di sana tidak ada sekolah. Jadi sa pindah ke Lualo supaya bisa sekolah. Sa pu adik masih di Dimba. Lalu sa jemput Pandis sendiri supaya dia ikut sa sekolah di Lualo”.

Toigele Yikwa! :*

DSC_0389
Toigele Yikwa dan Pandis Yikwa dengan udang selingkuh hasil buruannya

Di sebelah kelas A, ada kelas B, kelasnya Pang Guru Jati. Dari banyak anak yang istimewa, sa ingin bercerita tentang Mira Yikwa dan Wetita Kogoya. Selain teman sekelas, hubungan mereka adalah tante – ponakan atau kami di Lualo biasa menyebut mama adik – anak. Mira adalah mama adiknya Wetita.

DSC_0595
Mira Yikwa memakai sali

Pertama Mira. Secara kognitif, perkembagannya memang cukup lambat. Meski ia paling besar di kelasnya, tapi kemampuannya dalam membaca dan menulis masih rendah. Mungkin karena sifatnya yang pemalu. Meskipun begitu, Mira menjadi istimewa karena  ia sangat ringan tangan. Ia selalu menawarkan diri untuk membantu sa dan pang guru. Mulai dari membawakan barang, menimba air, sampai yang paling sering ia kerjakan adalah mencuci piring kami di rumah.

Tidak hanya itu. Ia juga kerap diam-diam mewujudkan kepinginan saya. Contoh, saat siang hari sa ngobrol dengan Mira dan teman-temannya. Sa bertanya di mana sa bisa mendapatkan bibit pohon markisa. Anak-anak bilang ada banyak, tapi di atas bukit Abilabaga. Membayangkan naik bukit Abilabaga di belakang rumah rasanya malas sekali. Apalagi hanya untuk mencari bibit markisa. Tapi, lain dengan Mira.  Sore hari Mira datang ke rumah dengan nafas terengah-engah.

“Ini… Bibis markita untuk ibung guru. Sa cari di Abilabaga tadi”.

Mira pernah ijin tidak masuk sekolah. Ia pergi ke Tolikara bersama mamanya. Seminggu tanpa Mira kami merasakan bagaimana Mira ternyata banyak membantu kami. Sore, ia tiba-tiba datang ke rumah setelah seminggu menghilang. Ia masuk ke dapur membawa oleh-oleh untuk kami. 3 ikat kacang tanah mentah dan sekantong cabe.

Ah, Mira! Dia selalu mengingatkan sa untuk selalu melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. Terimakasih, Mira!

Lain Mira lain lagi dengan keponakannya, Wetita Kogoya. Gadis Tomato adalah julukan paling pas untuk gadis kecil yang punya rumah di depan sekolah. Pasalnya, setiap hari selasa saat jadwalnya anak-anak membawa sayur dan kayu bakar, sudah bisa dipastikan Wetita pasti membawa sekantong plastik tomat atau orang Lani biasa menyebut tomato. Bahkan, diluar jadwal membawa sayur, jika kami minta tomat ke Wetita pasti akan diberi. Maklum, di depan honainya ada kebun kecil yang ditanami tomato.

Kelas A sudah, kelas B sudah..sekarang giliran sa untuk bercerita tentang anak-anak istimewa di kelas saya, kelas C.

Mengajar di kelas C membutuhkan energi sedikit lebih banyak. Selain karena anak-anak baru doyan-doyannya main gerak ke sana kemari, sa juga butuh untuk berbicara dua sampai tiga kali. Belum lagi mengalih bahasakan ke Bahasa Lani.

Beruntungnya, ada beberapa anak yang sering membantu sa ketika di kelas maupun di luar kelas.

Aspia Yikwa. Ia adalah gadis kecil dari kampung Muara. Dari rumahnya ia harus menuruni bukit, menyeberang sungai, lalu naik bukit lagi baru sampai di sekolah. Ia termasuk salah satu dari banyak anak yang rajin ke sekolah.

Aspia yang pemalu rupanya memiliki kecerdasan linguistik yang lebih baik dari teman-temannya di kelas. Ia lebih cepat mempelajari bahasa Indonesia sehingga banyak membatunya berkomunikasi dengan sa dan teman-teman guru lebih baik. Saat belajar membaca pun ia lebih cepat. Bahkan, sa sering harus menyiapkan bahan tambahan untuk dia latihan sendiri. Tidak jarang, sa meminta Aspia untuk jadi guru kecil di kelas. Membantu teman-teman lain yang masih terbata-bata membacanya. Cinta sa untuk si guru kecil Aspia! ❤

Selain Aspia, sa juga punya satu guru kecil lainnya. Namanya Teis Kogoya. Teis adalah kombinasi dari Niko dan Aspia. di kelas, ia kerap menjadi interpreter sekaligus guru kecil untuk teman-temannya. Tidak hanya itu, Teis juga sering menjadi guru Bahasa Lani untuk sa. Tiap kali sa bertanya satu kata ke Teis, ia langsung memberi tahu sa dalam Bahasa Lani. Cepat-cepat sa menulis di kamus Lani Wone sa. Begitu terus sampai sekarang sa sedikit banyak mengerti Bahasa Lani.

DSC_0397
Teis Kogoya asik mandi di kali Lu

Teis punya rumah paling jauh dari sekolah. Kata anak-anak, rumahnya masih berada di tengah hutan. Di kampungnya itu, hanya ada honai miliknya dan kakeknya saja.

“Masih banyak anjing hutan bung guru….” kata anak-anak yang kemudian disusul anggukan kecil oleh Teis. Ayeeeeehhhhh!

Teis tidak sendiri, ia datang ke sekolah membawa adiknya yang sebenarnya belum umur sekolah. Teiton namanya. Teis dan Teiton sudah seperti dua sejoli. Di mana ada Teis sudah pasti ada Teiton, begitupun sebaliknya. Saking sayangnya dengan Teiton, ia sering memarahi Teiton kalau ia tidak memperhatikan saat sa memberi pelajaran. Haha. Teis! Tidak hanya cerdas secara kognitif, tapi juga cerdas secara afektif. Teis Kogoya!

Terakhir, sa akan bercerita tentang anak paling kecil di kelas C. Bukan hanya secara fisik, tapi juga umur. Namanya Weko Yikwa. Ia adalah adik dari Kanggusina Yikwa dan Yos Yikwa. Kedua kakaknya berada di kelas B dan C. Sudah seperti sekolah keluarga kan? Hehe.

Setiap hari, Weko datang ke sekolah bersama kedua kakaknya dan teman-temannya yang berasal dari kampung Bonggani. Kadang Weko juga datang ke sekolah di temani sahabatnya Mopi. Anjing hitam berbulu lebat ini kerap mengantar Weko sampai sekolah dan kembali ke rumahnya jika Weko atau kakaknya sudah menyuruhnya pulang. Hubungan makhluk hidup yang luar biasa bukan!

Hampir sama dengan kakaknya, Yos, ia termasuk anak yang tidak pernah bisa diam ketika belajar. Sa selalu “membiarkan” Weko belajar dengan gayanya sendiri. Kadang ia belajar sambil menyanyi, sambil guling-guling atau sambil tidur terlentang di atas meja ata lantai. Biasa! Sa selalu memberitahu Weko kalau dia boleh belajar dengan gayanya sendiri, yang penting mengerti. Itu saja.

DSC_0410
ats-bwh; Weko Yikwa, Yukite Yikwa, dan Tante Sherlita Vita Tanrisana

Oiya, meskipun sebenarnya Weko adalah anak TK yang masuk SD, secara kemampuan ia lebih cepat belajar baca. Ia bahkan sering membantu temannya yang kesulitan membaca dengan menjadi tutor sebaya untuk teman-temannya. Keren ya si Weko! 🙂

Itulah beberapa anak-anak Lualo yang istimewa. Masih ada Yukiles yang aktifnya setengah mati, Kiton yang punya semangat tidak ada habisnya, Apite dengan satu antena yang membuat dia seidikit-sedikit ketawa, dan masih ada empat puluh sembilan anak istimewa lainnya. Ya, semua anak di Lualo istimewa. Mereka selalu mengajari kami tentang kepingan-kepingan hidup bernama BAHAGIA.

30/01/16

rose

Ya Guru, Ya Kapster!

image

Geli. Itu yang selalu sa rasakan tiap kali melihat rambut anak-anak. Bagaimana tidak, rambut mereka yang keriting lucu itu sudah seperti sarang kutu dan telur kutu saja. Ya cowok, ya cewek. Sama saja.

Kalau sudah begitu, biasanya kami langsung menawarkan untuk memangkas rambut. Ada yang langsung mengiyakan, ada pula yang malas. Terlebih anak-anak perempuan. Mereka akan menolak untuk dipangkas rambutnya karena malu jika rambutnya pendek atau karena ingin rambutnya panjang supaya bisa dianyam. Memang sih, bagus ketika rambut anak-anak perempuan dianyam. Sa sendiri suka itu kalau melihat rambut mereka dianyam dengan cantik. Tapi kalau penuh dengan kutu dan telurnya tetap saja jadi tidak bagus.

“Kalian boleh kasih panjang kalian pu rambut. Tapi kalau nanti ibung guru periksa ada kutu dan telurnya saaaaaatuuuuu sajaaaa… Ooo sudah! Harus gunting. Nanti ko boleh kasih panjang kalau sudah bersih kutunya e…”  Kalau sudah begitu, mereka akan rela memangkas rambutnya sambil cekikikan berjamaah.

Beda lagi dengan anak laki-laki. Mereka akan lebih cepat memberi respon iya ketika kami menawarkan untuk menggunting rambut.

“saya…saya…pang gulu saya…” mereka akan berebut satu sama lain untuk menjadi yang pertama dipangkas.

Kalau sudah begitu, kami mulai membuat jadwal untuk gunting rambut.

Jika matahari bersinar cerah sehingga solarcell mampu mengisi aki dengan baik, maka pang gulu akan langsung memangkas rambut anak-anak dengan mesin cukur sesuai permintaan mereka.

“Pang gulu potong polisi kah” minta anak-anak.

Potong polisi adalah model potongan yang paling disukai oleh anak-anak laki-laki. Bagian kanan kiri tipis dan bagian atasnya sedikit tebal. Itu model yang mereka suka. Tapi kadang ada juga yang minta dipotong model apa saja. Yang penting potong rambut sudah!

Pernah satu kali hampir semua anak laki-laki dipangkas rambutnya dengan model yang sama, Mohawk… hahaha.

image

Saking banyaknya, seringkali sa dan pang gulu harus membagi tugas. Sebagian sama pang gulu, sebagian dengan sa.

Begitulah! Menjadi guru di pedalaman seperti Lualo, tidak hanya memberi pelajaran tentang a, b, c dan hitungan 1 sampai 100. Kadang kami juga harus mengganti penghapus dengan sisir dan kapur dengan gunting. Ya menjadi guru, Ya menjadi kapster! 🙂

image

21/01/16
Rose

Rugi Kalau Hari Selasa Libur

image

Hari selasa selalu menjadi hari yang ditunggu-tunggu, tidak hanya oleh anak-anak tapi juga guru-guru di Lualo. Rasanya rugi kalau sampai ada libur di hari Selasa.

Untuk sa dan teman-teman guru, Selasa adalah hari di mana anak-anak akan membawakan supply makanan dan bahan bakar untuk menyambung hidup kami. Anak laki-laki akan membawa kayu bakar. Sedangkan anak perempuan akan membawa sayur dan ubi. Itupun tidak harus. Laki-laki juga boleh bawa sayur dan begitupun sebaliknya. Apa saja yang ada di rumah boleh di bawa. Maklum, di kampung kami tidak ada pasar. Pasar terdekat ada di Poga, butuh 6 jam trekking untuk pulang pergi. Sedangkab untuk masak, kami mengandalkan kayu bakar karena di rumah tidak ada kompor minyak apalagi gas. Jadi, kayu bakar dan sayur yang anak-anak bawa sangat membantu kami menyambung hidup. Biasanya cukup untuk persediaan kami selama seminggu. Itulah salah satu enaknya jadi guru di kampung 😀

Sedangkan untuk anak-anak, hari selasa adalah hari gizi. Ya! Setelah jam belajar selesai mereka akan berkumpul di halaman sekolah untuk minum susu bersama. Kadang mereka makan dengan biskuit yang kami siapkan, tetapi jika persediaan biskuit habis maka sehari sebelumnya kami berpesan untuk membawa ubi bakar dari rumah untuk dijadikan teman minum susu.

Awalnya, sa dan teman-teman guru yang menyediakan semuanya. Mulai dari timba air, masak, membagi susu sampai membagi biskuit. Lama-lama kami mengajak mereka untuk menyiapkan bersama. Kami membagi tugas. Pagi sebelum masuk sekolah, ada anak yang menimba air, saat istirahat ada yang bertugas masak susu, dan siang hari ada yang bertugas membagi susu dan biskuit. Oiya, ada juga yang bertugas memimpin doa dan mencuci gelas. Semua anak-anak yang menyiapkan.

image

Senang rasanya ketika melihat anak-anak satu persatu menerima gelas warna-warni dan mulai meyeruput susu. Sa selalu bilang kepada anak-anak, mereka harus bersyukur karena mereka masih bisa menikmati segelas susu dan biskuit meskipun hanya seminggu sekali. Ya, bersyukur! Karena di sekolah lain belum tentu ada susu gratis seperti di Lualo. Apalagi di rumah. Jangan ditanya lagi sudah. 😀

“Kalian pernah minum susu?” Tanya pang guru Jati.

“Pernah!”

“Dimana?”

“Di sini (di sekolah) to!” Jawab Mira Yikwa sambil tertawa disusul teman-teman lainnya. Hahaha.

Jadi, rugi kan kalau hari Selasa libur? Hehe

17/01/16

Rose

Guru Pengganti Su Datang!

DSC_0343
Mekilera dan Mira sedang membaca buku

Setiap hari selalu menjadi hari yang menyenangkan. Tawa riang selalu menghiasi hari demi hari. Sering kali tingkah polah mereka membuat tensi darah naik, tetapi jika tidak bertemu mereka satu hari saja, sudah rindu..haha. Itulah anak-anak.

Awal Agustus 2015 menjadi angin segar untuk anak-anak di kampung Lualo dan sekitarnya. Pasalnya, mereka akhirnya bisa kembali bersekolah. Ya! Sudah lama kegiatan belajar mengajar di SD Inpres Lualo tidak aktif. Kurang lebih sudah 4 tahun lamanya. Tidak aktif bukan karena tidak ada anak-anak atau bangunan sekolahnya, tetapi seperti hampir kebanyakan sekolah-sekolah di pegunungan tengah Papua, guru yang sebenarnya sudah ditugaskan di sekolah justru lebih aktif di kota ketimbang di tempat tugasnya.

Lualo adalah kampung kecil di Distrik Muara Kabupaten Lanny Jaya. Sekitar 95km dari kota Wamena, Jayawijaya dan 180 km dari kota Tiom, Lanny Jaya. Jauh sekali memang dari hiruk pikuk kota. Bahkan kami harus naik taksi 2 jam dari Wamena, kemudian lanjut trekking selama 3 jam barulah sampai di Lualo.

Saya dan pang gulu Andreas Wahjoe Klau memutuskan untuk masuk dan mengajar di Lualo setelah melihat kekosongan guru di sana. Kami menjadi guru pengganti sekaligus ‘orang rambut lurus’ pertama yang tinggal di kampung kecil di bawah bukit Abilabaga ini.

Tantangan dimulai!

Tidak mudah tentunya! Di hari pertama hanya ada 23 anak saja yang datang ke sekolah. Tiga ruang kelas yang sebenarnya masih baik  tidak bisa kami pakai karena kunci kelas tidak ada hingga akhirnya pintu kami jebol. Kondisi anak-anak juga banyak sekali PRnya. Mulai dari kemampuan baca tulis mereka yang lebih banyak belum bisa timbang yang bisa, bahasa Indonesia yang sangat terbatas sehingga menghambat komunikasi kami dengan anak, hitungan dasar belum bisa, anak-anak yang harus menukar absensinya di sekolah dengan tugas menjaga adik atau menggali ubi, dll. Terlalu komplek!

Melihat kemampuan mereka yang masih jauh dari yang seharusnya, kami memutuskan untuk nggembleng anak-anak di kemampuan baca, tulis, hitung dan berbahasa dulu. Tidak ada kelas 1,2, atau 3. Kami hanya punya dua kelas saja. Kelas A dengan pang gulu untuk anak-anak yang sudah tahu sedikit baca, dan kelas B dengan saya untuk anak-anak yang sama sekali belum tahu baca.

DSC_0610
Niko, Toigele, Tonias, dan Yukiles memamerkan hasil ruru (baling-baling) buatan mereka sendiri

Miris sekali memang melihat kondisi anak-anak saat itu. Terlebih ketika antusias dan semangat anak-anak saat belajar begitu menggebu meski dalam keterbatasan. Ya! Kekosongan guru dan luputnya Lualo dari perhatian pihak-pihak yang berwenang membuat kondisi anak-anak menjadi “tertinggal”. Tentunya bukan karena mereka bodoh, bukan! Tapi karena sudah 4 tahun tidak ada kegiatan belajar di sini. Pusing lah!

Sekarang, kami boleh sedikit tersenyum melihat perkembangan mereka dari hari ke hari. Anak-anak sudah bisa baca tulis, hitung dasar sudah mulai bisa, dan paling penting mereka sudah mulai tahu bahwa mereka memang harus ke sekolah setiap hari.

Susah sekali di awal, tetapi satu yang selalu kami yakini; anak-anak Lualo sama dengan anak-anak di Poga, di Tiom, di Wamena, d Jayapura, dan di manapun. Mereka berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang baik.

Ah, Terimakasih semesta yang sudah begitu baik bekerja membantu niatan kami _/\_

DSC_0042
Sekolah menyenangkan

16/11/15

Rose

Saya menontong viti…

 IMG_3249

Mungkin saya ini memang tidak pantas untuk menjadi guru yang baik. Saya selalu usil mengerjai anak-anak saya. Mulai dari menyembunyikan sandal atau sepatunya, membawa tas sekolahnya yang ditaruh di atas rumput dan si empunya sedang bermain-main, berpura-pura ingin membisikkan sesuatu padahal saya hanya ingin mencium pipi mereka karena untuk mencium mereka sangat susah, atau ikut tertawa saat mereka membuat kelucuan. Ah, saya memang kurang pantas menjadi guru yang baik. Satu hal yang sekarang sedang saya pelajari adalah menahan untuk tidak tertawa di depan anak-anak ketika mereka membuat kelucuan. Apapun itu.

Ya! Salah satu yang membuat saya selalu gagal menahan tawa adalah ketika anak-anak terbolak-balikmenyebutkan kata dengan huruf-huruf seperti S, T, C, J, Y, H, G, K. Ada beberapa anak yang memang dengan cepat bisa merubah kebiasaannya itu, tapi tidak sedikit pula dari mereka yang begitu susah merubah hal tersebut.

Salah satu dari anak-anak itu adalah Novita Yigibalom. Novita adalah anak pertama dengansatu adik yang masih kecil. Bapaknya seorang mantri. Mamanya ibu rumah tangga. Dia adalah anak yang punya rumah paling jauh ketimbang anak-anak lain. Rumahnya sangat kampung lah. Saya sendiri belum pernah datang ke rumahnya. Di kampungnya, saya yakin hanya satu-dua orang saja yang berbicara pakai Bahasa Indonesia. Selebihnya mereka pasti bicara dengan bahasa daerahnya, Bahasa Lani. Sering kali saya berbicara langsung dengan mamanya. Dan sering kali pula saya tidak mengerti apa yang diucapkan karena Bahasa Indonesianya yang kacau.

“AduhIbung guru, sa bita bawa Novita pulan ka? karna sa pu anak ni ulang tahun. Yadi ada ibada di ruma”

Bahasa Indonesia Novita sebenarnya tidak terlalu kacau ketimbang mamanya itu. Dia mengerti kalau saya bicara pakai Bahasa Indonesia yang baku. Hanya saja, masalahnya adalah ada-ada saja kata-kata yang ada huruf S, T, C, J, Y, H, G, K nya yang sering terbolak-balik diucapkan.

Pernah suatu kali, kami sedang belajar tentang dongeng. Di cerita itu, ada mama yang sedang menasehati anaknya yang mengejar ayam dipasar. Anak-anak spontan langsung menanyakan arti kata menasehati. Saya pun menjelaskan arti kata itu dan berusaha menerapkan dengan contoh kegiatan sehari-hari. Tidak lupa saya menuliskan di papan tulis. Anak-anak menyalin di kamus kata dan memberi arti di sebelahnya.

Setelah saya menuliskan kata itu di papan tulis, saya pun berusaha memenggal kata itu menjadi beberapa suku kata supaya mudah dibaca. Me- na- se- ha- ti. Saya pun kemudian coba satu satu. Dari 14 anak semua bisa menyebutkan dengan benar kata menasehati. Saya sudah sangat PD bahwa anak-anak bisa. Sampai anak yang terakhir, dia dengan suara yang keras dan tegas mampu mengeja per suku kata dengan benar. Tapi tidak dengan suku kata terakhir. Me-na-se-ha-si. Saya dan anak-anak lainnya langsung tertawa. pun dengan anak yang mengeja tadi. Saya minta untuk mengulangi lagi. satu kali menasehasi. Dua kali menasehasi. Ketiga kalinya, menasehati.

Anak itu adalah Novita.

***

Dua hari yang lalu, kami belajar tentang membuat cerita kemudian mempresentasikan ceritanya di depan kelas. Semua sudah membuat cerita dan siap tampil ke depan. Cerita yang mereka ceritakan bagus-bagus. Ada yang menceritakan tentang pengalaman pergi ke gunung, ke kali, ke hutan, dan juga ke kampung. Tiba saatnya Novita tampil. Awalnya Novita mempunyai masalah dengan percaya diri. Dia termasuk anak yang pemalu. Tapi belakangan ini saya melihat perkembangan yang bagus. Dia tidak lagi malu untuk bicara di depan kelas. Termasuk hari itu. Ia menceritakan pengalamannya pergi ke kampung. Dengan suaranya yang cukup keras dan jelas, saya dan anak-anak lainnya menikmati ceritanya. Kami di bawa jalan-jalan ke kampungnya, ke Wamena, dan kemudian kembali ke kampungnya lagi. Saya sayang duduk di kursi paling belakang pun mendengarkan ceritanya sambil menilai. Ceritanya bagus.

Tiba-tiba seisi kelas saling berpandangan dan menahan tawa. Pun dengan saya. itu dikarenakan Novita yang tiba-tiba menceritakan kegiatanya ketika berkunjung ke rumah kakeknya.

“Dirumah kakek saya menontong viti…” dan dia meneruskan ceritanya sampai selesai.

Menontong viti. Saya dan anak-anak yang lain saling berpadangan dengan mata yang kosong. Kami semua tidak mngerti maksudnya. Beberapa anakbilang kalau viti itu nama orang.Saya pun meminta anak-anak untuk tetap tenang.

Sampai ketika dia sudah selesai bercerita, saya minta dia mengumpulkan kertas ceritanya. Saya kemudian bertanya dengan dia maksudnya viti itu apa.

“eh…eh…eh…ehhhhh…tivi maksudnya ibu guru” dia menyadari kesalahanya dan menggigit-gigit jari telunjuknya ala anak-anak Lanny Jaya.

Untuk kesekian kali, tawa pecah di kelas saya karena Novita. 🙂

27/03/14

Rose

Si Ulat, Wesko

Tubuhnya kurus kecil. Lincah juga usil. Malu-malu tapi setiap geraknyaselalu mencuri perhatian saya jika di kelas maupun di luar kelas. Saya memanggilnya Ulat.

Ulat. Tentunya itu bukan nama aslinya. Nama yang diberikan orang tuanya adalah Wesko Kogoya. Saya mulai memanggilnya Ulat karena ulah usilnya. Saat itu saya mengadakan latihan soal Bahasa Indonesia. Dua kali saya mengadakan latihan soal itu dalam satu waktu. Kedua latihan soal miliknya itu dia kasih nama yang berbeda. Keduanya bukan nama aslinya. Bukan Wesko yang ia tulis. Tapi Ulat dan Tikus. Saya dibuatnya sakit perut saat membaca lembar soal itu. Di ujung kertas, dia menuliskan nama We. Sekali lagi. itu adalah caranya untuk menarik perhatian saya. Sejak saat itu pun saya mulai memanggilnya Ulat.

Dia mulai mencuri perhatian saya ketika di awal semester ada ulangan ia mendapatkan nilai 100. Satu-satunya dari 30 anak yang mendapat nilai sempurna.

Setelah itu banyak moment yang membuat saya semakin dekat dengan anak ini. Ia tidak sendiri datang dari kampungnya. Ia datang bersama saudara kembarannya yang juga masuk di asrama unggulan. Alinus Kogoya adalah adik kembarnya. Meskipun mereka kembar, dua Kogoya ini secara fisik jauh berbeda. Jika tubuh Wesko kurus kecil, maka lain dengan Alinus. Ia cenderung godek atau gendut. Kembar yang tidak identik. Selain ukuran tubuhnya yang berbeda, wajahnya pun juga berbeda. Awalnya tidak ada yang menyadari bahwa mereka ini kembar. Saya pun juga. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa nama orang tua mereka sama. Dan mereka bilang mereka kembar. Sifat yang paling menonjol dari Wesko, juga Alinus, adalah sifat malu-malu kucingnya.

Pernah satu kali asrama dibuatnya geger. Jati yang menjadi wali kelasnya kehilangan dia waktu belajar malam. Semua mencarinya. Pun dengan teman-temannya. Tapi tak satupun yang menemukan keberadaannya. Hingga akhirnya saudara kembarnya, Alinus, menemukannya sedang meringkuk di dalam lemari pakaian. Kembali, syaraf usilnya sedang on. Saya ga habis pikir, kalau mau sembunyi kenapa harus di dalam lemari? Kenap tidak di luar asrama, kenapa tidak di dalam kamar mandi, atau kenapa tidak di kolong tempat tidur. Ah, mungkin untuk dia, tempat-tempat itu terlalu mainstream. <<<MAINSTREAM>>>

Ulat ini senang sekali bermain pesawat-pesawatan dari kertas. Katanya ia ingin menjadi pilot jika sudah besar nanti.

Mungkin jika Wesko adalah anak Jawa, maka orang-orang akan menyebutnya anak cerdas. Sama seperti kembarannya, dia kidal. Ia menggunakan tangan kirinya untuk beraktifitas.kidal itu mematikan. Begitu kira-kira ungkapan yang pas untuk menggambarkan bahwa orang-orang yang kidal pasti jitu. Begitu juga dengan Wesko. Jika di lapangan, dia adalah “bos” , begitu anak-anak menyebut anak yang susah dikalahkan, saat main permainan lokal. Mulai dari jadi-jadi (boy-boynan), lempar lumpur, kelereng, istrom, dll. Tapi sifat usil dan tidak mau serius belajar ini kerap menempatkan dia di posisi rata-rata. Tidak di atas, juga tidak di bawah.

Belakangan, Wesko si Ulat ini dekat dengan saya. hampir setiap sore dia datang ke depan kamar dan menemani saya nongkrong. Biasanya dia akan memperhatikan apa yang saya lakukan dan kemudian ikut-ikut melakukannya. Ketika nongkrong, saya sering memutar lagu. Lagu reggae saya kenalkan dengan anak-anak juga Wesko. Saya menceritaka tentang si raja reggae, Bob Marley. Mengalih bahasakan lagu-lagunya. Dan akhirnya sekarang dia sudah mulai ketagihan mendengarkan suara emasnya Bob Marlet.

“Ibu guru, putar ibu guru pu lagu boleh. Yang kemarin tu..eeee… *berfikir* Bob Marley”

Ah, Wesko! Kamu ini lucu dan menggemaskan ya…

20/03/14

Rose

Imajinasi Laras

 “Imagination will often carry us to worlds that never were.

But without it we go nowhere”

-Carl Sagan-

Namanya Laras. Hanya 1 kata itu saja yang saya tahu dari gadis kecil ini. Pertemuan saya dengan Laras sama sekali tidak disengaja. Sepulang kerja, tumben-tumbenan saya pengen pulang lewat jalur yang ga pernah saya lewati kecuali jika memang ada kebutuhan di sekitar daerah itu. Selain jauh, jalur ini juga padat. Gejayan. Jalur sempit yang kanan kirinya dipenuhi toko-toko mulai dari counter HP, butik, hingga café-café kecil yang saling menghimpit satu-sama lain.

Lepas pertigaan Gejayan, saya memilih untuk belok kanan untuk menghindari macet di depan pasar Demangan. Ketika melintasi perempatan Sagan, saya sempat melihat beberapa anak kecil sedang berkumpul di trotoar. Rupanya kegiatan mereka memancing rasa penasaran saya. Saya pun kembali menengok ke belakang hingga berbelok dan akhirnya buntut vespa sudah menghadap utara. Saya sempat berfikir sejenak. Otak masih juga di penuhi rasa penasaran. Penasaran membawa saya memutar balik Vespa dan kembali ke perempatan sagan.

Rupanya, sekelompok anak-anak yang saya lihat tadi adalah kelompok belajar. Seorang lelaki seumuran saya duduk bersila di atas trotoar menemani anak-anak belajar. Lelaki yang kemudian saya kenal namanya adalah Cua, volunteer dari LSM Rumah Impian. Selain Cua, ada 3 anak usia belasan sedang bercerita dengan kawannya setelah selesai mengamen. Dan sisanya tampak sedang asik mewarnai di selembar kertas putih.  Salah satu anak yang sibuk dengan kertas dan crayon itu adalah Laras.

Berawal dari perkenalan singkat itu, beberapa hari kemudian (07/02)  saya kembali ke perempatan Sagan. Kali ini saya membawa serta beberapa buku dan susu untuk anak-anak. 9 buku yang saya bawa tak 1 pun dilirik oleh anak-anak. Hingga setelah beberapa waktu, Laras mengambil 1 buku bergambar kucing. Toffee tidur siang. Buku yang bercerita tentang seekor kucing yang ingin tidur siang itu ia baca dengan lancar.

481501_598168510200253_815637977_n
Laras, Toffe, dan imajinasinya

Laras gadis kecil yang duduk di kelas 1 SD itu tampak asik mengikuti bagaimana Toffee begitu sial saat ia ingin tidur siang. Kata per kata ia eja. Dia membaca dengan suara keras sehingga saya bisa mendengar. Sementara telunjuk mungilnya menari-nari di atas huruf. Beberapa saat, saya tersadar bahwa cerita yang Laras baca berbeda dengan isi buku. Saya kembali memperhatikan dengan seksama bagaimana Laras bercerita. Rupanya, apa yang Laras baca dan ceritakan itu adalah imaginasinya. Dia bukan membaca tulisan yang ada dibuku, melainkan membaca gambar dan membuat cerita sendiri karena dia belum bisa membaca. Laras tampak pede dengan ceritanya. Bahkan beberapa kali meyakinkan saya bahwa cerita yang dia baca itu memang benar adanya. Saya pun hanya membiarkan Laras mengumbar dengan imajinasinya. Saya tersenyum dan mendadak kagum dengan gadis kecil berkulit keling ini. Selesai dengan kisah Toffee, Laras kemudian lanjut membaca buku kedua tentang bentuk. Tentunya, dia masih membaca gambar dan bermain dengan imajinasinya.

Dahsyat ya, imaginasi itu. Bisa membawa kita ke tempat yang tidak pernah terbayangkan bahkan mungkin tidak mungkin untuk kita. Ya, seperti Laras dan imajinasinya  😉

26/04/2013

Rose

Tentang Saya, BUKIT dan Mereka

Setiap awal tahun saya selalu mencoba menuliskan resolusi pribadi di buku harian merah saya. Sekedar menuliskan target pribadi selama 1 tahun kedepan. Apapun itu. mulai dari hal-hal yang baru hingga melanjutkan target tahun sebelumnya yang belum terealisasi. Mulai dari target pribadi hingga taget untuk sesama. Semua saya tulis berjejer-jejer memenuhi hampir 1 sampai 2 halaman. Tapi karena kemalasan saya yang juga terhimpit waktu, sampai bulan kedua tahun 2013 ini hampir selesai, saya belum juga menuliskan 1 pun resolusi di buku diary saya. Saya terlalu malas. Tetapi, meskipun belum tertulis, otak saya sudah menyimpan beberapa target di tahun 2013. Salah satunya melanjutkan BUKIT.

BUKIT bukan sesuatu yang baru di hidup saya. Tetapi ini menjadi baru untuk tahun ular ini. BUKIT yang lahir 15 Juli 2011 lalu adalah project pribadi saya dan mantan saya untuk membantu anak-anak yang kurang mampu secara ekonomi untuk tetap bisa melanjutkan sekolah. Bisa dibilang adalah project orang tua asuh.

Awalnya, BUKIT lahir karena keprihatian saya dan Abram (mantan) melihat beberapa anak yang harus turun ke jalan untuk menyambung hidup. Kami tidak ingin melihat anak-anak putus sekolah hanya karena alasan klise, tidak punya uang. Di sisi lain kami melihat ada banyak orang yang sebenarnya ingin membantu tapi tidak punya cukup waktu dan tenaga untuk turun langsung. Disitu kami ada. Menjadi sebuah jembatan untuk para donatur yang dermawan dengan anak-anak yang membutuhkan bantuan secara finansial.Nama BUKIT sendiri kami pilih dengan filosofi sesuatu yang kecil tapi mempunyai manfaat yang besar untuk sekitar. Layaknya BUKIT secara harafiah, bukit memang tidak sebesar gunung, tidak mempunyai banyak ekosistem, tidak mempunyai lahan besar untuk menampung banyak senyawa. Tapi apa yang ada di bukit sangat bermanfaat untuk siapapun yang tinggal di dalam atau di sekitarnya. Ya, seperti itulah kurang lebih filosofinya hingga kami mematenkan nama BUKIT untuk langkah kecil kami ini 2 tahun lalu.

Perjalanan BUKIT sendiri tidak mulus. Saya pribadi merasakan semangat yang sangat fluktuatif. Kadang naik, kadang turun, bahkan MATI. Tantangan pertama adalah saya harus berjalan sendiri untuk meg-handle BUKIT karena Abram mengundurkan diri sebagai pengurus. Saat itu pengurus hanya ada dua. Saya sebagai koordinator dan Abram sebagai sekretaris. Jadi kehilangan 1 pengurus saja membuat saya kelimpungan. Tapi itu hanya beberapa hari saja dan kemudian dia kembali. Kami berproses bersama lagi di BUKIT. Hingga akhirnya karena alasan pribadi Abram resmi mengundurkan diri di penghujung tahun 2011. Seketika saya merasa jomplang meskipun saya pribadi sangat menghargai keputusannya. 2011 saya resmi harus berjalan sendiri mengatur ini itunya BUKIT. Berjalan sendiri di sebuah komunitas itu tidak mudah. Ditambah karena galau akademik (dikejar dateline skripsi), galau masalah hati, galau finansial, dan kegiatan-kegiatan saya, saya memutuskan untuk off dari BUKIT.

Saat itu BUKIT sudah mempunyai beberapa donatur tetap dan tidak tetap dan 2 anak asuh. Triyanti yang saat itu masih kelas 5 menghabiskan waktu sepulang sekolahnya untuk turun ke jalan membantu orangtuanya berjualan koran di perempatan jalan Sudirman Jogja. Sedangkan anak yang kedua adalah Anin. 1 tingkat diatas Triyanti. Gadis cantik ini harus kehilangan salah 1 matanya dan menanam mata palsu karena tumor yang dia derita semasa kecil. Bapaknya berjualan minum (es teh, es jeruk dll) di emperan toko di Malioboro. Sedangkan Ibunya adalah ibu rumah tangga yang badannya kurus kering karena sakit-sakitan. Itulah 2 anak BUKIT.

Anin (tengah) bersama 2 sahabatnya
Anin (tengah) bersama 2 sahabatnya
Ayah Anin dan gerobak dagangannya
Ayah Anin dan gerobak dagangannya
Triyanti dan jalanan
Triyanti dan jalanan
Loper koran cilik ini namanya Triyanti
Loper koran cilik ini namanya Triyanti

Tahun 2012 BUKIT benar-benar vakum. Saya kehilangan semangat untuk bergerak lagi di tengah kebutuhan dan kegiatan pribadi saya. Hubungan dengan donatur hanya beberapa kali saja. Tapi meski vakum, urusan administrasi sekolah dengan anak-anak beres karena masih ada beberapa rupiah untuk membayar SPP perbulan. Beberapa kali saya ingin bangun dan melanjutkan BUKIT. Beberapa masukan juga keluar dari teman-teman dekat. Beberapa kali saya mengajak teman untuk menjadi partner saya di BUKIT. Tapi beberapa kali itu juga saya putus asa dan memutuskan untuk berhenti. Tawaran yang sempat saya lemparkan ke beberapa teman saya tarik. Bukan tidak percaya pada kemampuan teman-teman yang saya ajak, tapi saya merasa kecil hati dan tidak mantap untuk melanjutkan BUKIT. Tapi wajah-wajah 2 anak kecil itu selalu menghantui saya. Siang malam. Rupanya saya tidak cukup tega membiarkan anak-anak itu begitu saja. Keinginan untuk bergerak lagi semakin kuat saat beberapa donatur menanyakan kabar BUKIT. Ada kerinduan yang terselip diantara kebisuan untuk berbagi lagi. Kemudian beberapa teman yang baru tahu BUKIT juga menawarkan ketertarikannya untuk ikut bergabung menjadi orang tua asuh.

2013, menjadi saat yang pas untuk saya melanjutkan beberapa PR saya yang belum selesai. Seperti salah satu alasan saya saat wawancara di tempat bekerja saya sekarang, “saya masih ingin di Jogja paling tidak sampai tahun depan karena saya ingin melanjutkan beberapa PR saya yang belum selesai. Salah satunya BUKIT.” . Saya beruntung. Saya mendapat kerja di Jogja tahun ini. Itu pertanda bahwa saya HARUS melanjutkan langkah saya yang sempat tertatih ini.

Hati saya sudah mantap. Saya ingin dan harus bergerak lagi. Meskipun saya sendiri. Menggerakkan roda BUKIT agar bisa berjalan seperti impian awal saya saat membuat BUKIT. Bergerak dengan langkah kecil yang harapannya bisa bermanfaat untuk orang-orang disekitar saya yang membutuhkan.

Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah mendukung saya dan BUKIT. Untuk Abram yang pernah menjadi bagian dari BUKIT. Untuk semua donatur BUKIT (Galih, Inu, Oni, Adi, Pak Budi, Ari, Ninoy, Jodi, Mbak Reni, dan yang tidak ingin disebutkan) dan dua malaikat saya yang terus memompa semangat saya, Triyanti dan Anin. MARI BERGERAK BERSAMA LAGI 🙂

21/02/13

Cheers,

rose

Kelana Bhakti Budaya, Ketoprak Tobong Terakhir di Yogya

Rabu malam, saya dan beberapa teman streetart melaju menuju ke Dusun Bayen Purwomartani Kalasan. Tempat dimana Ketoprak Tobong akan dipentaskan. Di tengah jalan yang gelap dan kanan kirinya sawah, kami terhenti saat melihat papan tulis berukuran 2×1 meter yang dicantolkan di bawah pohon talok bertuliskan :

“Kelana Bhakti Budaya
Tgl: 9 Januari 2013
Pukul 21.00 WIB
Cerita: Empu Sumali”

Parkiran motor yang masih lenggang kemudian terlihat menjadi sedikit sesak dengan  motor-motor kami. Tak terlihat ada keramaian, mata saya hanya menangkap satu dua orang yang sedang duduk di warung kecil di sisi loket tiket. Dari pintu masuk, saya bisa mengintip ke arah panggung. Puluhan kursi besi hijau sudah berjejer rapi siap memangku penonton untuk melihat pementasan. Rupanya pentas belum dimulai.

Satu persatu orang mulai berdatangan. Mereka adalah pemain ketoprak tobong ini. Mungkin salah satu diantaranya adalah Empu Sumali. Pikir saya.

Saya dan teman-teman kemudian memilih untuk mengisi perut dulu di warung kecil tadi. Kopi hitam sedikit gula saya pesan. Karena di dalam warung penuh, saya memilih untuk duduk diluar. Tak lama seorang lelaki sepuh yang berjalan kesusahan menghampiri saya dan duduk disebelah saya. Lelaki itu adalah Pak Sentot. Usianya mungkin sekitar 65th. Beliau dulunya adalah seorang dalang di Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya. Hampir 7 tahun beliau menjalankan peran sebagai dalang sebelum akhirnya pensiun beberapa bulan lalu karena sakit stroke.

IMG_4676
Tirai merah membalut panggung Kelana Bhakti Budaya

Kopi yang sudah saya pesan saya tinggalkan begitu saja. Saya lebih tertarik untuk masuk ke area panggung dari pada menyeruput pahitnya. Duduk disalah satu kursi yang masih kosong dan mengamati panggung yang  masih terbalut tirai merah. Seperangkat alat gamelan juga masih terdiam tak bersuara. Dari balik tirai, samar terdengar suara orang bercakap. Bayangan mereka terlihat jelas dari depan panggung. Saya penasaran dibuatnya. Gayungpun bersambut,

“Mbak kalo mau liat yang lagi dandan boleh. Kebelakang aja” begitu seorang Ibu menawari saya untuk ikut kebelakang.

Rasa penasaran saya pun terjawab begitu saya memasuki lorong kecil disisi kiri panggung. Suara dan bayangan yang terpantul di tirai panggung itu adalah para pemain yang sedang melakukan brifing. Mereka berkumpul membuat lingkaran. Satu dari mereka sedang berbicara, penuh semangat. Hampir seperti orasi.

Kemudian saya berjalan kebelakang panggung. Diantara remang lampu kuning 5watt, saya menemukan bilik-bilik kecil yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu, beratap seng dan berlantai tanah membentuk huruf U. Sedangkan di bagian tengah dibiarkan kosong begitu saja. Hanya ada beberapa pohon dan motor.  Saya masih berfikir, bilik-bilik itu dipakai untuk apa ya?

Saya pun menyimpan pertanyaan itu dan kembali ke warung.

Cerita dibalik megahnya panggung Ketoprak Tobong

Kenyang mengisi perut dengan nasi angkringan, saya kembali kebelakang panggung. Kali ini tidak sendiri. Saya masuk bersama teman-teman. Tak berapa lama kami berada dibelakang, para pemain yang tadi masih berkumpul untuk brifing turun dari panggung. Mereka akan bersiap-siap untuk berdandan. Beberapa berkumpul di ruang kecil terbuka di belakang panggung, beberapa ada yang memilih untuk berdandan di dalam bilik-bilik kecil di sisi kanan.

Saya beringsut masuk kesalah satu bilik kecil berukuran 2×2 yang sedari tadi saya perhatikan dari luar. Bermodal sebuah cermin kecil dan seperangkat kosmetik sederhana, seorang perempuan memoles wajah ayunya dengan terampil. Perempuan itu adalah Ibu Sumiyati (48th), istri dari pak dalang. Asam manisnya nobong sudah beliau rasakan sedari SD. Darah seni yang mengalir dijiwanya tak lain tak bukan adalah warisan dari Kakek Nenek nya yang kemudian diwariskan kepada orangtuanya. Mungkin bisa dikatakan keluarga Bu Sumiyati ini adalah keluarga Tobong.

Saya, Bu Sumiyati, dan Pak Slamet dalam bilik bambu
Saya, Bu Sumiyati, dan Pak Slamet dalam bilik bambu

Dari Bu Sumiyati kemudian saya tahu bahwa para pemain tobong ini tidak pernah melakukan latihan dulu. Dalang hanya memberitahu cerita yang akan dibawakan beberapa menit sebelum pentas. Apa ceritanya,  bagaimana jalan cerita dan pembagian tokoh. Itu saja. Selebihnya adalah spontanitas dari para pemain.

IMG_4609
berdandan bersama di belakang panggung

Beliau juga bercerita kalau pemainnya tidak mendapat upah pentas yang besar. “Ya, ga jauh-jauh ari 5000 setiap kali pentas mbak” . Hal itu memang tak mengherankan karena dari pengelola sendiri tidak mematok harga masuk. Meskipun sebenarnya ditiket masuknya tertera 5.000 pertiket, tapi kebanyakan warga yang menonton justru mengabaikannya. Membeli 1 tiket untuk 2-3 orang. Penjualan tiket yang juga tak banyak ini masih harus dipangkas untuk biaya operasional seperti makanan dan solar untuk generator. Sedangkan keperluan seperti kosmetik dan uang transport adalah tanggungan masing-masing pemain. Setelah dipangkas, baru sisanya adalah jatah mereka. Tentunya tidak semua karena masih harus dibagi sekitar 38an pemain. Maka tak heran ketika setiap kepala hanya mendapat tidak lebih dari Rp. 5.000,- saja.

Meskipun begitu, Tobong baginya bukan sekedar berlenggak lenggok diatas panggung, tapi baginya tobong adalah hidupnya. Beliau lahir dari tobong, hidup dari tobong dan menemukan cintanya di tobong juga.

Ditengah saya menikmati pementasan Bu Sumiyanti bersolek di depan cermin, datang seorang lelaki tinggi besar berbadan tegap masuk ke bilik itu. “ Saya Pak Slamet, suami Bu Sum sekaligus dalang tobong ini”  katanya saat saya mengulurkan tangan dan mengenalkan diri. Berbeda dengan Bu Sumiyati, Pak Slamet mulai bergeliat di dunia ketoprak tobong saat sudah remaja.

Entah, Pak Slamet ini orang keberapa yang saya temui di tempat itu yang menyapa dan bercerita kepada saya dengan ramah. Seperti bukan orang asing. Bertemu mereka seperti bertemu teman lama yang sudah menumpuk cerita hingga tak terasa menghabiskan beberapa waktu untuk meluapkannya.

Dari berkelana hingga berlabuh di Jogja

Melihat Bu Sumiyati sudah hampir selesai, saya pamit untuk keluar. Bergabung dengan Mas Risang yang juga sedang ngobrol dengan teman-teman lain.

Mas Risang ini adalah salah satu penyelenggara pameran Project Tobong yang di gelar akhir tahun 2012 lalu bersama seniman Inggris Helen Marshall . Proyek yang didukung oleh Arts Council England dan British Council, diorganisir oleh Indonesia Contemporary Art Network (iCAN) ini mendokumentasikan kehidupan komunitas Ketoprak Tobong Kelana Bakti Budaya yang merupakan salah satu kelompok ketoprak tobong terakhir yang tersisa di Yogyakarta.

Menurutnya, memang ketoprak tobong ini dulunya adalah ketoprak yang pementasannya nomaden atau berkelana dari satu kota ke kota lain. Awal mulanya dari Kediri, Jawa Timur. Biasanya mereka pentas setiap 3 bulan sekali, kemudian berubah menjadi 6 bulan sekali hingga akhirnya tidak pernah pentas lagi karena tidak ada penonton. Merasa di ujung tanduk, mereka memutuskan untuk hijrah dari Jawa Timur ke Jogjakarta yang notabene nya adalah kota budaya. Hampir 25 juta dikeluarkan untuk biaya pemindahan komplek tobong ini. Harapan awal mereka sederhana, jogja bisa meniupkan nafas panjang untuk mereka. Tapi rupanya harapan mereka tak senada dengan kenyataan. Beberapa kali pentas di Jogja mereka tak juga berhasil menarik banyak penonton. Bahkan seringkali mereka tak mendapat upah sama sekali karena memang tidak ada yang menonton. Hingga akhirnya di tahun 2010, mereka mengadakan pentas yang di beri judul “Pamit Mati”. Pentas yang mengangkat keresahan mereka tentang kelanjutan hidup ketoprak tobong. Tapi rupanya mereka tidak jadi mati, seorang penonton justru menawarkan sebidang tanahnya sebagai lahan untuk nobong. Tempat itulah tempat saya dan teman-teman berdiri sekarang ini. Di dusun Bayen Purwomartani Kalasan. Tempat dimana para pemain tidak lagi berkelana dari satu kota kekota lain, tempat dimana pada akhirnya mereka menetap dan melakukan pementasan setiap hari rabu dan sabtu jam 9.00 – 12.00 WIB.

Menurut Mas Risang lagi, ketoprak tobong bukan sekedar pementasan sebuah cerita diatas panggung saja, tapi satu kesatuan utuh antara cerita yang dipentaskan dipanggung dan kehidupan sehari-hari dari para pemain. Saya pun sepakat. Menonton ketoprak Tobong bukan hanya menikmati para pemain berakting, menari dan bernyanyi dipanggung saja. Tapi seperti yang saya dan teman-teman lakukan sekarang, kami bisa melihat persiapan pementasan sedari briefing cerita, pembagian peran, berdandan, hingga mengenal kehidupan para pemain lebih dekat lebih lekat.

Jika tadi Bu Sumiyati bercerita bahwa upah sekali pentas mereka tak jauh-jauh dari 5000, mas Risang membenarkan. Upah mereka tergantung dari jumlah penonton yang datang. Semakin banyak yang datang ya semakin banyak pula upah yang akan mereka kantongi. Dan semakin besar juga harapan mereka bahwa Ketoprak Tobong masih akan berumur panjang.

Seperti Bu Sumiyati, dari banyak pemain rata-rata mereka nobong dari kecil bahkan tidak sedikit yang melanjutkan jiwa nobongnya dari orang tua dan kakek neneknya. Mas Banjir, salah satu pemain muda ketoprak Tobong , juga memulai karirnya di dunia tobong sejak kecil.

“Kakek nenek saya dulunya pemain tobong. Bapak Ibu juga. Sekarang saya. Ga tau nanti anak saya akan main tobong juga atau tidak” jawabnya disusul tawa kecil.

Ketoprak Tobong dan lorong waktu

suara gamelan memecah malam di Bayen. Mengalun menyaingi suara generator yang sedari tadi saya datang sudah menderu. Kursi-kursi besi yang tadinya kosong sudah tampak dipenuhi beberapa penonton. Rata-rata mereka semua orang-orang sepuh. Kecuali di deret terdepan disayap kiri.

Saya memilih duduk di deretan terdepan juga tapi di sisi sebelah kanan. Dari kursi ini saya bisa melihat jelas para niaga, pemain gamelan, dan panggung. Segelas kopi yang sedari tadi saya anggurin kembali saya jamah. Beberapa penonton lain berkerumun di warung mbah kancil yang hanya buka saat pentas saja.

Penari Pembuka berlenggok diatas panggung
Penari Pembuka berlenggok diatas panggung

Tepat pukul 9.15 WIB, tirai merah panggung tersibak. 3 orang penari pembuka berlenggok mengikuti irama dari para niaga. Salah satu diantaranya adalah Bu Sumiyati. Beliau tampak cantik berbalut kemben kombinasi warna merah dan kuning.

Cerita Empu Sumali pun dibawakan beberapa pemain. Cerita ini adalah cerita tentang babad tanah Pati. Dulu, saat masih dalam masa penjajahan, Kembang Joyo,  Adipati Pati ingin membuka hutan untuk dibangun Kadipaten. Tapi karena hutan itu terkenal penuh dengan hal-hal gaib, Adipati membuat sayembara barang siapa bisa membuka hutan itu akan diberikan hadiah berupa tanah. Dan orang yang beruntung itu adalah Empu Sumali yang memang terkenal sakti mandra guna. Setelah berhasil membuka hutan itu, ternyata janji Kembang Joyo untuk memberikan Empu Sumali tanah tidak ditepati. Beliau lalai. Hingga akhirnya Empu Sumali datang ke Kadipaten untuk membunuh Kembang Joyo.

Ditengah pementasan, penonton dihibur dengan sesi lawak. Disesi ini lah ada interaksi antara penabuh gamelan, pemain dan penonton. Penonton dan niaga merespon lelucon dari pemain dengan celoteh-celoteh kecil. Begitu juga para pemain. Kemudian tiba-tiba saja ada yang melempar 2 bungkus rokok ke panggung. Saweran. Dan mas Kampret dan Bagong pun membalas nya dengan memberikan beberapa lagu jawa seperti Caping gunung, Padang Bulan, dan beberapa lagu lagi yang saya tidak tahu judulnya.

Penonton tampak terhibur. Meski sudah tengah malam semua masih duduk manis mengikuti cerita. terkadang mereka nyletuk, kadang ikut Mas Kampret dan Bagong nyanyi, kadang tertawa cekikikan saat kedua kator itu melemparkan lelucon.

IMG_4694
Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya
IMG_4699
Kemang Joyo, 5 selir dan para pengikutnya
IMG_4753
Tiga pemain muda ketoprak Tobong
IMG_4759
Empu Sumali dan patih Kadipaten Pati

Pementasan yang cukup lama. Hampir 4 jam kami, penonton, disuguhi cerita tentang babad tanah Pati itu. Tapi meskipun lama, saya pribadi sangat menikmati panggung. Menikmati setiap cerita dari para pemain. Menikmati mereka bersolek merias wajahnya. Menikmati setiap adegan panggung. Menikmati setiap tabuhan dari para niaga. Menikmati setiap tembang jawa yang dinyanyikan. Menikmati setiap gojekan yang keluar dari tubuh gendut Mas Kampret dan Bagong. Saya sangat menikmati Ketoprak Tobong malam itu, seperti memasuki lorong waktu. Kembali ke beberapa belas tahun lalu saat saya masih sering ikut kakek untuk melihat ketoprak atau wayang kulit di desa. Seperti ada nostalgia dan romantisme yang sedang dibangun di area panggung itu.

Pemain, Pengelola dan Penonton tumpuk undung dadi siji
Pemain, Pengelola dan Penonton tumpuk undung dadi siji

photographs by Regeg Gnuga & Risang Yuwono

-rose-

12/01/13

 

Jelajah Sejarah di Candi Abang dan Goa Sentono

Diantara candi-candi yang menarik di Jogja dan Jawa Tengah adalah candi abang yang harus di kunjungi. Dalam bahasa Jawa, abang berarti merah. Nama ini dulunya di berikan karena memang material yang digunakan candi ini adalah batu bata merah. Maka tak mengherankan jika namanya candi abang atau candi merah.  Yang menjadi menarik dari candi ini adalah tempatnya yang berada di atas bukit. Hampir seperti candi barong, hanya saja candi ini sudah tidak berbentuk candi lagi dan tidak merah lagi. Melainkan berubah bentuk menjadi sebuah gundukan atau malah terlihat seperti bukit teletabis dan warna batu bata merah sudah beralih warna menjadi hijau karena gundukan itu diselimuti rumput yang hijau segar. Dari atas bukit ini bisa melihat pemandangan Jogja dan sekitarnya. Jika cuaca cerah, sore hari bisa menikmati sinar emas yang beranjak pulang.

IMG_1385
Candi Abang menjelma menjadi bukit teletubies
IMG_1359
Bercengkrama diatas bukit

Tidak jauh dari candi abang ini terdapat situs Goa Sentono. Situs ini memang jarang dilirik para pelancong padahal menarik untuk dipelajari.  Goa sentono tidak seperti goa-goa pada umumnya yang berbentuk horizontal atau vertikal. Goa ini dulunya adalah sebuah batu besar di kaki bukit yang mempunyai 3 ceruk. Ceruk-ceruk itulah yang kemudian menjadi daya tarik untuk dipelajari. Meskipun situs ini tidak bisa disebut sebagai candi, tapi situs ini mempunyai ornamen-ornamen yang ada dan sering kita jumpai di dalam candi.

IMG_1322

Di dalam ceruk pertama dari goa Sentono ini terdapat sebuah relief yang hampir mirip dengan relief meru atau gunung dan sebuah Yoni di lantai, ceruk kedua atau ceruk tengah terdapat relief siwa dan sebuah Lingga, dan ceruk yang terakhir terdapat sebuah Lingga Yoni dan di dinding samping kanan kiri terdapat relief Agastya dan Durga.

Jika dilihat dari ornamen-ornamen yang terdapat dalam ceruk tersebut ada besar kemungkinan dulu tempat ini di gunakan oleh masyarakat setempat sebagai kuil atau tempat pemujaan untuk dewa-dewa umat Hindu. Hal ini bisa dilihat dari keberadaan Lingga Yoni yang merupakan lambang kesuburan, relief dewa Agastya  sebagai perwujudan dewa Siwa dalam bentuk mahaguru dan dewi Durga yang merupakan dewi kebaikan sekaligus istri dari dewa Siwa.

ceruk1
Ceruk I Goa Sentono
Ceruk II Goa Sentono
Ceruk II Goa Sentono
Ceruk III Goa Sentono
Ceruk III Goa Sentono

Goa Sentono dan Candi Abang ini berada di Dusun Candi Abang, Jogotirto, Berbah Sleman. Jika dari arah Prambanan langsung saja menuju ke arah Piyungan. Tempat ini bisa di capai dengan mengikuti plang arah yang sudah tersedia di sepanjang jalan.

Selamat berjelajah sejarah!

-rose-

Kapan Kita Kemana Lagi?

Pindul Attack

Cave Tubbing, Goa Pindul, Wonosari

179358_1786851828775_307339_n

179084_1788447948677_79333_n

Pantai Klayar, Pacitan, Jawa Timur

222193_1994495979749_4237786_n

Jembatan Gantung, Imogiri, Yogyakarta

181680_1817101665002_3746963_n

Kebun Teh Situ Gintung, Ciwidey, Bandung

181559_1817089664702_4285031_n

Kawah Putih, Ciwidey, Bandung

285441_3638847451300_547164475_n

Pulau Cemara Kecil, Karimun Jawa, Jawa Tengah

543167_3450913509277_1233470619_n

Candi Plaosan Lor, Klaten, Jawa Tengah38576_1543267379316_5378244_n

Pantai Sundak, Gunung Kidul, Yogyakarta

Lalu kemana lagi kita? 🙂

-rose-

10/01/2013

Kartini dari Negeri Manusela

“kalo bukan kita sendiri, siapa lagi yang akan peduli dengan keadaan Manusela. Siapa yang mau mengajar di sekolah yang terpencil seperti di Manusela ini?”

-Yuli Silahata-

Namanya mungkin tak sebesar dan setenar R.A.Kartini atau Ki Hajar Dewantara yang sudah dulu bergelut di dunia pendidikan Indonesia. Tapi perjuangannya untuk memberantas buta huruf di Bumi Pattimura luar biasa hebat.

Perempuan itu Yuli Lilihata (54), seorang guru honorer sebuah sekolah dasar dibawah naungan Yayasan Kriten yang berada di kaki gunung Binaiya, Seram, Maluku. Pertemuan saya dengan perempuan tangguh ini ketika melakukan ekspedisi pendakian di Gunung Binaiya dipenghujung 2011 lalu. Ditengah pendakian itu saya melewati dusun Manusela dan menginap dirumah beliau semalam.

Mama Yuli, begitu beliau lebih akrab di panggil, mendedikasikan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mengajar di sekolah yang dulunya menjadi sekolah tempat beliau menuntut ilmu itu. Berbekal ijasah SMA, beliau mengabdikan diri sejak 2004 hingga sekarang. Di sekolah sederhana itu beliau mengampu 6 kelas dengan 58 siswa. Sendiri. Ya, itulah Yuli Lilihata, Kartini dari negeri Manusela.

Menjadi ujung tombak pendidikan SD YPPK Manusela
Menjadi ujung tombak pendidikan SD YPPK Manusela

Sering beliau merasa kewalahan ketika harus mengajar sendiri untuk 6 kelas itu. Untuk mensiasati keterbatasan SDM itu, beliau mengajar secara bergilir. Setelah mengajar kelas 1 dan memberikan tugas, beliau berpindah di kelas 2, memberikan pelajaran dan tugas, kemudian berpindah lagi di kelas 3, begitu seterusnya sampai di kelas 6. Menjelang ujian sekolah, beliau harus meliburkan kelas 1-5 selama seminggu dan secara intensif mengajar kelas 6 untuk persiapan ujian. Tak hanya itu, seringkali sekolah juga diliburkan jika Mama Yuli harus pergi ke kota untuk kepentingan admistrasi sekolah. Maklum untuk sampai di kota mereka harus berjalankaki selama 4 hari. Tak ada transportasi.

Masa-masa pembayaran gaji guru honorer, menjadi waktu yang selalu beliau nantikan. Tidak banyak, hanya Rp. 250.000,- perbulan. Itu pun setiap bulan Mama Yuli selalu cemas karena sering gajinya tidak cair dan di rapel beberapa bulan berikutnya. Beruntunglah, alam Manusela sangat baik hingga semua kebutuhan sehari-harinya bisa diambil dari alam. Meski begitu, beliau tetap datang setiap pagi ke sekolah untuk membagikan ilmu yang beliau punya kepada anak-anak Manusela.

Meskipun berada dalam kondisi yang serba terbatas tak juga mampu memupus keinginannya untuk memberi perubahan di Manusela. Beliau merasa bahwa tugas untuk memajukan pendidikan Manusela ini merupakan tugas nya sebagai putri daerah. Sebagai anak dari Bapa Raja Manusela beliau memang menjadi ujung tombak kemajuan pendidikan di ujung Manusela.

Mama Yuli dan anak didiknya
Mama Yuli dan anak didiknya

Manusela, dusun kecil nan asri yang berada di lembah antara gunung Morokele dan Nasalala. Dusun ini bisa di capai dengan berjalan kaki dari dusun Mosso selama 4 hari. Ketidakadaan sarana transportasi, listrik dan sinyal komunikasi membuat dusun ini semakin terisolir. Mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani kopi, kasbi dan sagu. Alam lah yang menjadi penopang kehidupan masyarakat Manusela.

Ketika guru-guru di sekolah kota memperjuangkan kenaikan gajinya agar hidup mereka layak, Mama Yuli justru berbeda. Beliau dengan telaten mengajar di SD YPPK Manusela sendiri sembari menunggu dilirik oleh pemerintah Maluku agar status keguruannya diakui.

-rose-

*all photographs by @dharmaa666

Oase di Tengah Pendakian Gunung Binaiya

Melepas lelah di tengah pendakian
Melepas lelah di tengah pendakian

Menikmati gemericik air terjun di siang bolong bersama teman-teman? Itu sudah biasa. Atau sengaja menyempatkan diri untuk berkunjung ke air terjun di akhir pekan? Itu juga sudah biasa.Tapi kalau menikmati air terjun di tengah pendakian gunung? Itu baru luar biasa. Rasanya seperti menemukan oase di tengah guru pasir yang panas.

Liang 2 atau yang sering disebut Liang Silahata ini benar-benar menjadi oase di tengah pendakian bagi para pendaki Gunung Binaiya. Gunung yang tertinggi di Maluku ini memang banyak sekali memberikan kejutan bagi para pendakinya. Salah satunya keberadaan air terjun yang mempunyai tinggi kurang lebih 10-15 meter ini. Jika pendakian di mulai dari Desa Mosso, maka air terjun ini akan kita jumpai setelah 2 hari perjalanan.

Air terjun ini berada di bawah Liang 2, sebuah batu besar yang hampir mirip seperti gua yang acap kali di gunakan oleh pendaki untuk bermalam. Selain karena tempatnya yang datar, Liang ini juga dekat dengan air. Dari Liang 2, air terjun ini bisa di capai hanya dengan berjalan 15 menit saja. Jalan turunan yang curamnya sekitar 70-80 derajat ini memaksa pengunjungnya untuk berjalan super hati-hati. Apalagi jalan yang dipenuhi dengan rumput-rumput liar dan akar-akar pohon ini tak akan segan untuk menggelincirkan tubuh kita jika kita tak hati-hati.

masih bersih dan alami
masih bersih dan alami

Air yang bersih dan berwarna biru itu benar-benar bisa mengobati rasa lelah setelah berjalan meyusuri hutan tropis yang masih terbilang rapat ini. Rasa lelah karena tanjakan yang serasa tak ada habisnya itu seketika akan hilang. Tapi, meski rasa capek masih sedikit mengglayuti tubuh kita, tapi hasrat untuk bermain air pasti tak akan bisa terbendung.

Tidak hanya berfoto-foto saja, di sini pendaki bisa mengisi botol atau drigen untuk persediaan air selama perjalanan. Airnya jernih dan mengalir, jadi aman untuk diminum.  Pendaki pun juga bisa memuaskan diri mandi di bawah terjun yang indah tapi tak banyak orang tahu keberadaannya ini.

Keindahan seperti ini tidak ada di tempat lain, hanya ada di Indonesia.

rosadahlia

Pinang Tak Hanya Menguatkan Tapi Juga Mengakrabkan

img_20111206220805_4ede2fd5555fb
Sirih, Pinang, dan Kapur

Mengkonsumsi pinang merupakan salah satu tradisi turun menurun  di Indonesia. Tapi, dewasa ini tradisi “nginang” sudah susah ditemukan, bahkan sudah punah di beberapa daerah. Salah satu daerah yang masih menjaga tradisi ini adalah Pulau Seram. Hampir di setiap wilayah di pulau terbesar di Maluku ini penduduknya mengkonsumsi pinang dan sirih. Tak pandang bulu, laki-laki atau perempuan, muda atau tua, semua mengkonsumsi pinang dan sirih.

Tak salah jika mereka mengkonsumsi Pinah dan sirih. Karena memang banyak sekali manfaat didalamnya. Contohnya, meskipun mereka tak kenal gosok gigi tapi gigi mereka tetap kuat. Mereka percaya bahwa komposisi pinang, sirih, dan kapur mampu menggantikan pasta gigi dan mampu menjaga gigi mereka tetap sehat dan kuat. Walaupun pada akhirnya kombinasi sirih, pinang dan kapur itu mereka akan meninggalkan kerak merah di gigi.

Selain untuk memperkuat gigi, buah pinang, sirih, dan kapur juga di konsumsi karena bahan-bahan tersebut bersifat panas. Hal ini menjadi sangat penting menginggat tempat tinggal mereka yang berada di dataran tinggi dengan udara yang cuku dingin. Jadi badan mereka akan tetap hangat setelah mengkonsumsinya.

secuil pinang untuk hari ini
secuil pinang untuk hari ini

Disamping 2 manfaat itu, kandungan dalam buah pinang yang banyak air itu acap kali di gunakan untuk melepas dahaga saat warga bekerja atau melakukan perjalanan jauh. Jadi jika warga akan bepergian jauh atau hanya sekedar pergi ke ladang, mereka akan membawa serta pinang, sirih dan kapur di dalam Lopa-lopa, tas tradisional yang terbuat dari pelepah sagu.

Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, tapi 3 benda itu juga di gunakan sebagai salah satu perlengkapan yang harus ada saat upacara adat di laksanakan. Saat ada upacara adat seperti menerima tamu misalnya, mereka mengunakan pinang, sirih dan kapur ini untuk “menjamu” tamu. Tamu pun harus mencicipi salah satunya meski hanya secuil. Dengan memakan salah satu dari pinang, sirih dan kapur itu, maka tamu sudah di terima dan dianngap menjadi bagian dari keluarga mereka.

Yang menjadi unik, warga juga menggunakan pinang dan sirih untuk media saling mengakrabkan satu dengan yang lain. Saat warga berkumpul, Pinang, sirih dan kapur menjadi sajian yang harus ada. Mereka akan saling berbagi jika memang ada yang tidak membawa atau kehabisan. Warga biasanya akan ngobrol sambil asik mengunyah pinang dan sirih.

Lalu bagaimana cara mengkonsumsinya? Mudah saja, cukup membelah pinang menjadi 2 bagian dan kemudian di makan bagian buahnya. Sedangkan untuk sirih, mereka akan mencocolkannya di kapur. Siap makan!

Meskipun banyak sekali manfaatnya tapi jangan sekali-kali terlalu banyak mengkonsumsi. Salah-salah bukan nya haus kita hilang, gigi kita kuat, atau badan kita yang hangat, dan makin akrab dengan kawan tapi malah mabuk gara-gara kebanyakan pinang dan sirih.

-rose-

Upacara Adat Pukari Berkati Pendaki Binaiya

Tarian Upacara adat Pukari

Upacara adat merupakan salah satu daya pikat untuk pendaki Binaiya selain keindahan alam bumi rempah-rempah ini. Selain untuk melestarikan budaya Indonesia, ternyata upacara adat mempunyai arti tersendiri bagi warga Pulau Seram.

Desa Selumena adalah desa kecil yang berada di antara Desa Maraina dan Desa Kanikeh yang ditempuh dalam 5 hari perjalanan dari Desa Mosso. Di desa itu kita bisa menyaksikan upacara adat Pukari. Hampir sama dengan upacara adat di Desa Huwalesana, hanya saja Upacara adat Pukari melibatkan semua warga Desa Selumena dan juga ada tarian adatnya.

Upacara adat Pukari terbilang upacara adat yang sederhana di banding dengan upacara adat di tempat lain. Properti yang di gunakan pun bukan barang-barang yang mewah, hanya kapur, sirih, kinang, dan Tifa. Jika semua properti itu sudah siap, maka upacara adat Pukari pun akan di mulai dengan di tandai suara tabuhan Tifa oleh Bapa Raja Tanah.  Semua peserta upacara akan duduk melingkar di luar tikar yang di tengahnya di letakkan kapur, sirih dan pinang dalam besek bambu. Sambil menabuh Tifa, alat musik tradisional Maluku yang terbuat dari batang pohon yang di kosongi bagian dalamnya dan di tutup dengan kulit rusa di salah satu ujungnya, Bapa raja tanah dan warga akan melantunkan nyanyian yang sarat akan doa.

Setelah beberapa saat, upacara pun akan di lanjutkan dengan tarian adat yang juga merupakan rangkaian dari Pukari. Gerakan dari tarian ini cukup mudah untuk di ikuti bagi kita yang pemula. Hanya maju, mundur dan ke samping searah putaran jam. jangan lupa membuat lingkaran dan bergandeng tangan dulu dengan kawan samping kanan dan kiri kita sebelum tarian di mulai. Meskipun sederhana, Pukari sangat meriah. Suasana tarian akan semakin riuh saat salah satu penari berteriak melengking “EEEHHHHHAAAA”. Teriakan itu rupanya dipercaya warga sebagai pembangkit alam bawah sadar penari agar semakin bersemangat.

Upacara adat Pukari tidak berhenti pada nyanyian dan tarian saja. Masih ada 1 lagi ritual yang harus di ikuti oleh semua peserta upacara adat ini. Makan sirih dan pinang. Ya, meskipun rasanya sepat dan kurang bersahabat dengan lidah kita, sirih dan pinang harus tetap kita santap. Coba saja meskipun hanya sedikit, itu yang akan warga Selumena bilang saat mengetahui tamunya kesusahan menelan Sirih dan Pinang.

Itulah Upacara adat Pukari yang di gunakan oleh warga Selumena untuk menyambut tamu, khususnya tamu yang ingin mendaki Gunung Binaiya. Warga percaya pendaki akan di berkati dan di lindungi oleh pencipta alam dari hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi, di luar kepercayaan itu, upacara adat ini lebih sebagai media saya untuk semakin mengenal dan mempelajari salah satu budaya Indonesia yang benar-benar kaya ini.

Aku Cinta Selumena, Aku Cinta Indonesia!

-rose-

semua itu sangat mungkin untuk berubah saat kita sendiri mau merubahnya

1499

Saya bukan termasuk orang yang suka berkomunikasi dengan keluarga saya. terutama orangtua saya. Menurut saya, mereka punya pemikiran yang sediki t kolot, otoriter dan kerap bersebrangan dengan pemikiran saya. Tapi, baru-baru ini saya baru menyadari penting nya komunikasi dengan orang-orang terdekat. Terutama dengan orang tua.Dan khususnya lagi dengan Ibu saya. Kenapa penting? Karena dari komunikasi itulah kita bisa merubah hal yang dulunya berasa tidak mungkin menjadi sangat mungkin.

Kesadaran saya muncul ketika beberapa waktu lalu saya sms-an dengan Ibu saya. Awalnya hanya sekedar menanyakan kabar seperti biasaanya. Kemudian percakapan itu berlanjut ke pertanyaan tentang pendakian saya ke Merapi kemarin. Ibu saya tanya mulai dari gimana di sana? Trus sampai puncak ga? Di puncak lihat apa saja? Siapa saja yang sampai puncak? Kuat ga saya sampai puncak? Trus di puncak panas ga? Bahaya ga? Dsb… Hal ini menjadi lucu buat saya karena ini kali pertama Ibu saya mau menanyakan tentang hobi saya yang satu ini. dan menjdai lebih lucu karena di akhir pembicaraan Ibu saya bilang:

 Dek, Ibu kok penasaran pengen denger ceritanya, pengen lihat fotonya kemaren kamu naik merapi” haha..saya jawab saja..”

“iya, besok kalo adek pulang tak ceritain dan kasih liat fotonya deh, tapi jangan minta dianterin ke puncak ya kalo udah liat foto2nya.” Hahaa..itu guyon saya ke Ibu.

Percakapan semacam itu tak akan terjadi kalo tidak ada komunikasi yang baik antara saya dan Ibu saya. Tapi tidak begitu saja Ibu bisa menerima hobi saya yang satu ini. Cukup panjang juga proses untuk mendapatkan ACC dari beliau.

Saya masih ingat betul ketika beberapa tahun yang lalu, tepatnya waktu saya masih SMA, Ibu marah-marah waktu tau saya suka naik gunung. Malah Ibu sempat nangis juga waktu saya pamit mau naik gunung Lawu.

“kowe ki cah wedok, nanti kalo di gunung ada apa-apa gimana? Ibu tu ga pernah bayangin punya anak cewek sukanya naik gunung kayak kamu..” Itu ucapan ibu yang masih saya ingat sampai sekarang. Tapi lambat laun, Ibu luluh juga. Semua itu karena komunikasi. Ya komunikasi. Ga ada yang lain.

Dulunya saya ga pernah ijin sama Ibu kalo naik gunung. Pertama karena takut ga di ijinin, kedua takut ibu nangis lagi. Tapi seiring berjalannya waktu, tiap kali saya pergi kemana, atau melakukan apa saja, saya selalu cerita sama ibu. Entah langsung, telfon atau sekedar mengirim pesan singkat “ Bu saya naik gunung”  “Bu saya…”. Entah di bolehin atau nggak, saya tetap berusaha membangun komunikasi dengan beliau.

Saat pulang kerumah, adalah saat-saat pamer foto dan cerita. meski pun foto saya ga bagus, tapi setidaknya cukup membantu Ibu tau apa yang saya lakukan di luar sana. Memberi gambaran gimana keadaan di tempat yang saya kunjungi. Membagi cerita apa yang saya pelajari dari setiap perjalanan saya. Dan hasil nya? Saat saya pulang dari Maluku dan saya kasih liat foto-foto perjalanan saya, khususnya foto-foto keadaan SD YPPK Manusela, Ibu akhirnya bisa menerima cita-cita saya yang dulu beliau tentang, mengajar di pelosok. Padahal, 3 tahun yang lalu saya sempat berdeabt kusir dengan beliau. Saat itu saya cerita saya mau jadi guru. Dengan penuh antusias beliau bilang “Iya..jadi guru. trus daftar jadi PNS. udah aman itu nduk…” dan saat itu juga raut muka Ibu langsung berubah 180 derajat saat saya bilang ” iya guru bu, tapi bukan guru seperti yang ibu pikirin…saya mau jadi guru di pelosok…di papua…” Jleeebbbbb…saat itu juga raut muka nya memerah. wajah sumringah saat mendengaer kata guru dari mulut saya seketika berubah menjadi muka sembab dan akhirnya debat kusir

” trus kalo Ibu meninggal gimana?” 

“Ya udah tinggal pulang to bu” jawab saya

” tapi kan jauh”

 “ya kan ada pesawat”

 ” tetep aja jauh…ga tiap hari ada pesawat”

 dan bla bla blaaaaaaaa….panjang sekali…dan berujung sebuah tangisan. Duh Gustiiiiiii…..:(

Tapi toh semua sekarang sudah berubah. Dulu saya sempat kecewa juga karena orang tua saya ga suka bahkan ga mendukung semua kegiatan saya. Semua! Mulai dari kegiatan social, outdoor, sampai kegiatan hore-hore saya. Semua di tentang! Sempat juga saya merasa putus asa sampai saya sering ga ijin kalau pergi atau berkegiatan yang sekiranya tidak akan dapat ijin dari orang tua. Dikatakan membantah, berani sama orang tua, sok pinter, dan sebagainya sering sekali mampir di kuping saya saat saya berusaha menjelaskan kepada beliau. Arrrrrgggggg….bukan itu mau saya! saya cuma mau menjelaskan saja!Bukan mau sok keminter, mbantah Ibu, apalagi berani sama Ibu! sueeeerrrrr bukan itu…

Yah, melihat semua itu memang seakan-akan tidak ada lagi celah buat saya.

Dulu yang saya pikir saya tidak mungkin bisa berdamai dengan orangtua saya untuk masalah yang satu ini, tapi karena komunikasi yang saya bangun terus..terus dan terus…nyatanya berbuah lampu hijau! Malah jadi nagih di ceritain tiap saya pergi kemana atau berkegiatan apa.  Ini bukan masalah kita harus berontak dulu hingga ada acceptance seperti yang saya dapat dari Ibu saya itu. Tapi point pentingnya adalah bagaimana kita bisa melibatkan orang tua kita di setiap kegiatan yang kita lakukan. Menjaga kepercayaan mereka bahwa kita akan baik-baik saja dan menjaga diri di manapun kita pergi. dan yang paling penting adalah bertanggung jawab penuh dengan apa yang kita kerjakan! satu lagi, berusaha membuktikan bahwa apa yang kita lakukan adalah apa yang kita suka dan memang yang terbaik untuk kita. Dan lagi – lagi, bangunlah komunikasi yang bagus dengan beliau. karena komunikasi adalah kekuatan kata-kata yang mampu merubah semua yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin.

Saya tidak pernah membayangkan jika saya tetap bersikeras untuk diam dan tidak mau menekan sedkit ego saya untuk berkomunikasi dengan Ibu saya, mungkin selamanya saya tidak akan mendapatkan ijin untuk mendaki gunung, untuk bepergian jauh, untuk tetap berkegiatan sosial, dan untuk mengajar di pelosok sana.

Well, yakin lah bahwa semua itu sangat mungkin untuk berubahs saat kita sendiri mau merubahnya…:)

13/12/2011

04.23