See you another day, Lualo!  Yogok ooo… 😊

Terhitung sejak 2013, tahun ini adalah tahun ke 4 sa belajar dan berdinamika dengan Papua dan seisinya. Masih seumur jagung memang, tapi entah kenapa 3 tahun terakhir ini sa merasa lebih hidup dan kaya.

Tahun pertama di Tiom dan tahun kedua di Poga menjadi tahun-tahun yang mengasikkan. Semangat masih berapi-api dan segala kebutuhan sekolah masih terjamin. Pusingnya masih normal lah. Beberapa program pun berhasil dijalankan bersama anak-anak. Pojok baca, Buletin Elege Inone, Pohon Pengetahuan, Bintang Prestasiku, Honai Pintar Poga, dll. Hampir semua berjalan baik.

Tahun ketiga menjadi tahun yang cukup berat dan menantang. Menghidupkan sekolah yang telah mati suri selama 4 tahun itu setengah mati sekali. Tidak semudah yang sa bayangkan. Dan tentunya, tidak semudah sa mengajar di sekolah sa sebelumnya atau tak semudah pula mengajarkan a,b,c kepada anak-anak.

Sa masih ingat betul bagaimana hati sa hancur dan gelisah setelah melihat ketimpangan yang terjadi di sekolah sa dan Lualo. Di saat yang sama, sekolah sa mendapat 7 guru untuk 1 sekolah, sedangkan Lualo satu guru pun tidak ada. Sebagai akibatnya, anak-anak di Lualo tal lagi sekolah. Sekolah pun telah non aktif selama 4tahun. Hati sa hancur. Di tengah gegap gempita Lanny Jaya mengejar predikat pemenang pendidikan sepegunungan tengah, mereka malah melupakan Lualo. Dan sa yakin, masih ada banyak Lualo-Lualo lain di Lanny Jaya. Sa mulai gelisah. Kalau sa diberikan pilihan untuk menutup mata dan hati akan Lualo sa akan menutup mata, batin sa. Sayangnya, sa justru semakin hancur tiap mengingat wajah polos anak-anak Lualo. 

Sa juga masih ingat betul ketika tanpa alasan yang jelas sa diberhentikan dari yayasan yang membawa sa sampai ke Tanah Papua. Bukannya sa sedih, sa  justru merasa lega dan saat itu juga sa langsung mengirim pesan ke teman “Welcome to Lualo”. Semesta kembali mendengar kegelisahan sa dan memberi jalan.

Pun, sa masih ingat saat sa dan Andreas Wahyu berdiskusi, kami memutuskan untuk mengisi kekosongan Lualo. “Sampai Lualo dapat guru seperti sekolah-sekolah lain” begitu katanya. Pilihan yang berat sebetulnya karena kami hanya bermodal keyakinan dan sedikit uang saja di tabungan.

Ya, menjadi orang rambut lurus pertama di Lualo penuh dengan warna. Emosi sa terkuras di sana. Bagaimana tidak, banyak sekali moment-moment bahagia, sedih, bangga, marah, kesal tersaru menjadi satu. Ya, melihat tumbuh kembang anak-anak, merasakan kasih sayang yang tulus dari anak-anak dan masyarakat Lualo tentunya membuat kami selalu bersyukur dan bahagia. Tapi,  tangis sa akan pecah ketika melihat anak-anak yang menangis karena lapar, sakit, atau kedinginan. Atau pernah juga sa kebingungan karena stok beras habis dan kami tidak bisa turun ke Wamena untuk membeli  beras karena masih hari belajar, dan selang berapa hari ada masyarakat yang rela membagi berasnya untuk kami.

Apel pagi (📷 by Ula R)
Belajar Menbaca agar tahu dunia (📷 by Ula R)
Mandi bersama Pirite Kogoya (📷 by Ula R)

Belum lagi rapalan doa-doa agar Lualo mendapat guru selalu keluar dari mulut kami tiap hari pula. Tiap kali ada informasi tentang pendistribusian guru-guru kontrak, kami selalu berharap Lualo pun akan mendapatkannya. Walaupun selalu dan selalu saja hasilnya mengecewakan. Lualo tidak mendapat guru lagi. Begitu terus sampai sering membuat kumparan-kumparan optimis kami semakin lama semakin terkikis. Ya, perlu diakui bahwa merawat harapan itu berat.

Ah, fluktuatif dan menguras emosi lah! Tapi justru dinamika seperti itulah yang membuat sa semakin hari semakin merasa hidup dan lebih kaya. Haha.

Hari demi hari kami habiskan dalam tawa yang penuh harap.

Hingga akhirnya bulan Mei lalu, kami boleh bernafas lega. Ditengah harap kami yang semakin lama semakin terkikis, Misi Kogoya datang  menawarkan diri untuk mengajar di Lualo.

“Ini sa pu adik-adik. Jadi sa juga harus ajar mereka ibung guru ” ucap Misi Kogoya. Ia adalah salah satu sarjana dari  kampung Lualo.

Air mata sa meleleh mendengarnya. Semesta telah mendengar doa kami dan Tuhan telah mengirim guru yang kami nanti-nanti. Our mission has been accomplished!

Misi Kogoya dan anak-anak mengangkut bantuan buku dari BPKP(📷 by Andreas Wahyu)

Lualo, terimakasih untuk satu tahun yang begitu asik! Kami boleh banyak belajar tentang kasih, hidup, dan perjuangan. Terimakasih untuk pelukan dan belaian sayang dari tubuh-tubuh kecil beraroma honai. Terimakasih untuk hari-hari kami yang selalu dipenuhi celoteh dan kenakalan mereka. Terimakasih karna separuh lebih dari tabungan ludes untuk biaya hidup di Lualo, tapi justru sa merasa lebih kaya karna jutaan rupiah itu tergantikan dengan kantong bahagia sa yang selalu penuh tawa dan cinta dari anak-anak.  Terimakasih partner terbaik sa @andreas Wahjoe dan Nes Yigibalom. Terimakasih pula untuk semua teman-teman yang selalu menjaga nyala asa untuk kami dan anak-anak Lualo. See you another day, Lualo!  Yogok ooo… 😊

Tahun keempat, akan menjadi petualangan baru untuk sa. Gunung-gunung yang menjulang tinggi akan terganti dengan kelok sungai, honai-honai akan terganti dengan rumah jew, dan ubi bakar akan tergantikan dengan sagu bakar. Ah, be my friend, Asmat! We gonna have a long long journey ahead. 

Liputan Tempo bulan Maret


Ruang Tunggu Bandara Timika

01 oktober 2016

Rose

Ps. Setelah Misi Kogoya menawarkan diri untuk mengajar di Lualo, satu bulan setelah itu Dinas P&P Kab. Lanny Jaya mengirimkan 4 guru untuk Lualo.

Advertisements

4 thoughts on “See you another day, Lualo!  Yogok ooo… 😊

  1. u’r so amazing sa (rosa)..
    bener kata Riwan,, real Kartini :*
    Semoga Tuhan selalu memberikan kemudahan, kesehatan dan berkah dalam setiap perjalanan sa (Rosa)..
    love from jogj a:*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s